Karakteristik Petani Milenial, Adaptif Terhadap Teknologi dan Inovatif

Eqqi Syahputra - detikFinance
Jumat, 24 Sep 2021 17:53 WIB
Kementan
Foto: Dok. Kementan
Jakarta -

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kementan Kuntoro Boga Andri, mengungkapkan fenomena antusiasme generasi muda terjun di dunia pertanian merupakan energi baru bagi pembangunan pertanian nasional. Menurutnya, regenerasi petani yang menjadi momok menakutkan, namun perlahan tapi pasti hal ini mulai terjawab dengan lahirnya petani milenial yang tidak hanya bergerak pada sektor hilir, namun juga di sektor hulu.

"Selama ini, yang diketahui masyarakat luas bahwa petani milenial itu hanya bermain pada ranah pasca panen. Tapi faktanya, sudah banyak milenial kita yang terjun langsung di proses budi daya," ujar Kuntoro dalam keterangan tertulis, Jumat (24/9/2021).

Kuntoro menambahkan, permasalahan regenerasi petani sebetulnya bukan hanya dialami negara Indonesia saja, hal ini hampir dirasakan semua negara. Menurutnya, yang membuat generasi muda masih enggan terjun di sektor pertanian yakni karena adanya faktor psikologis dan ekonomis.

"Faktor tersebut meliputi stigma petani yang masih dianggap pekerjaan kelas bawah dan stigma pendapatan sektor pertanian yang lebih rendah jika dibandingkan dengan non pertanian," tambah Kuntoro.

Lebih lanjut, Kuntoro menegaskan, seiring perkembangan teknologi dan informasi, justru para milenial bersemangat terjun di sektor pertanian karena mereka tahu bahwa di balik tantangan yang dihadapi, terdapat pendapatan yang sangat menjanjikan.

"Karakteristik petani milenial itu adaptif terhadap perkembangan teknologi dan inovatif. Banyak hal-hal baru yang berhasil mereka aplikasikan, memecahkan kebuntuan dalam pengembangan usaha tani dan yang paling utama adalah menciptakan pasar baru yang potensial," kata Kuntoro.

Kuntoro menuturkan, setidaknya ada 2,7 juta petani milenial dari total 33 juta petani yang ada di Indonesia. Selain karena usia di bawah 39 tahun, mereka yang termasuk petani milenial adalah yang memiliki latar belakang pendidikan minimal SMU, adaptif dan inovatif terutama dalam mengoptimasi ICT (Information and Communication Technologies) serta kreatif dalam memanfaatkan alat dan mesin pertanian.

Kuntoro mencontohkan lemon garut yang diproduksi oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Sawargi bersama Eftilu yang memasok kebutuhan vitamin C para tenaga medis di seluruh RSUD Kabupaten Garut.

"Keren, mereka memberdayakan potensi lokal dan di waktu yang sama turut mendukung dan membantu pemerintah dalam penanggulangan pandemi COVID-19 dengan mendukung kebugaran dan daya tahan tubuh para tenaga medis," tegas Kuntoro.

Selain KWT, Dede Koswara (31) asal Bandung bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Regge Generation menanam labu dan mampu menjual 20 hingga 40 ton ke berbagai daerah. Dalam sehari dengan omzet yang didapat berkisar Rp 50 hingga Rp 100 juta.

"Itu adalah sedikit cerita hebat para petani milenial kita. Maka, bertani itu hebat, menjadi petani itu keren," pungkasnya.



Simak Video "Gerak Kementan Tingkatkan Ekspor Tanaman Hias"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)