Kementan Sebut Kelangkaan Jagung Dipicu Distribusi Tak Merata

Yudistira Perdana Imandiar - detikFinance
Jumat, 24 Sep 2021 23:45 WIB
Petani mengemas jagung manis ke dalam karung usai dipetik pada kebun mereka di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (22/2/2020). Sebagian petani di Kabupaten Sigi mulai memanen tanaman jagung mereka dan menjadi panen perdana pada tahun ini. Jagung tersebut selanjutnya dijual ke Kota Palu dengan harga Rp200 ribu perkarung. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/hp.
Foto: ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah
Jakarta -

Direktur Rumah Ekonomi Rakyat Taufik Amrullah mendorong agar tata kelola perdagangan jagung diperbaiki. Menurutnya kelangkaan terjadi bukan karena stok yang sedikit, tapi karena penyaluran yang belum merata.

"Data yang saya terima dari Kementan dan informasi dari kawan-kawan di lapangan, produksi jagung sebetulnya tidak bermasalah. Betul ada kelangkaan yang dialami sebagian peternak mandiri tapi di wilayah sentra jagung stok itu belum terserap maksimal," kata Taufik dikutip dalam keterangan tertulis, Jumat (24/9/2021).

Taufik menduga polemik kelangkaan jagung dikarenakan adanya panic buying yang dilakukan para perusahaan pakan besar dan para pengepul karena harga jagung naik hampir 30%.

"Harga jagung dunia naik hampir 30%. Ini membuat panik para perusahaan pakan besar. Di lapangan, yang terjadi adalah peternak mandiri tidak mendapatkan jagung karena sudah diborong oleh pengepul dan perusahan-perusahaan besar," urai Taufik.

Taufik menjabarkan daya beli peternak mandiri tidak sekuat perusahaan pakan besar yang mampu membeli jagung dalam volume yang besar dan harga yang kompetitif. Hal itu membuat mereka sulit mendapatkan jagung.

"Peternak mandiri wajar kalau tidak kebagian karena petani lebih suka menjual ke pengepul dalam jumlah yang besar dan harga yang kompetitif. Karena itu yang mendesak perlu dilakukan adalah memperbaiki tata kelola perdagangan dan sistem distribusinya," tutur Taufik.

Taufik menekankan jika tata kelola tak segera diperbaiki, hal seperti ini akan terus berulang setiap tahun.

"Jadi stok banyak itu percuma selama tata kelola perdagangannya tidak mencerminkan aspek keadilan," cetus Taufik.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian stok jagung saat ini sebanyak 2,3 juta ton. Direktur Serealia Ditjen Tanaman Pangan Moh. Ismail Wahab menjelaskan Kementan mengupdate data stok jagung secara reguler setiap minggunya. Ia menambahkan ada dua unit kerja yang secara aktif memperbarui data, yaitu Badan Ketahanan Pangan dan Pusat Data dan Informasi Pertanian.

"Badan Ketahanan Pangan melakukan survei periodik stok jagung di pengepul, gudang GPMT, dan pasar. Sedangkan Pusdatin kami secara langsung melalui mantri tani dan harmonisasi data BPS. Datanya sama," terang Ismail.

(fhs/ega)