Petani Lampung Raup Omzet Rp 150 Juta per Tahun dari Tanam Singkong

Yudistira Imandiar - detikFinance
Sabtu, 25 Sep 2021 18:45 WIB
petani singkong
Foto: detikcom
Lampung Tengah -

Bertani singkong menjadi usaha turun temurun bagi sebagian besar warga Dusun Sido Mulyo, Kampung Fajar Bulan, Kecamatan Gunung Sugih, Lampung Tengah. Salah satunya Muhammad Munadi, warga Sido Mulyo yang telah bertani sejak kecil.

Munadi mengatakan dari kecil hingga beranjak dewasa ia sudah mantap menekuni profesi tersebut sebagai mata pencaharian utama. Pekerjaan itulah yang hingga kini bisa menghidupi istri dan anaknya.

Kini, Munadi memiliki lahan seluas 2,5 hektare yang seluruhnya ditanami singkong. Kepada detikcom dia mengungkapkan para petani singkong di Kampung Fajar Bulan, termasuk dirinya, memasok singkong untuk bahan baku tapioka ke pabrik-pabrik yang ada di Lampung Tengah.

Munadi menjelaskan ia menanam jenis singkong thailand yang memang diperuntukkan sebagai bahan baku tapioka. Adapun usia tanam singkong berkisar 7-8 bulan.

"Saya sudah sejak kecil bertani. Nggak pernah lah ke (profesi) yang lain. Kalau di sini (Dusun Sido Mulyo) memang rata-rata petani singkong dan peternak. Kita tanam jenis singkong thailand untuk ke pabrik tapioka," ujar Munadi saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Ia menjabarkan, dari setiap satu hektare lahan bisa dihasilkan 32 ton singkong. Munadi memilih menanam singkong secara bergilir di lahan seluas 2,5 hektare miliknya, sehingga bisa mendapatkan panen setiap 3 bulan sekali.

"Karena kalau ditanam langsung (berbarengan) itu kalau ada kelangkaan pupuk, repot. Lebih baik dijeda, jadi 3 bulan bisa panen," terangnya.

petani singkongpetani singkong Foto: detikcom

Munadi menuturkan penghasilan dari panen singkong tak menentu. Sebab, harga singkong sangat dinamis dan fluktuatif. Tahun ini misalnya, harga singkong merosot hanya sekitar Rp 800 dari sebelumnya Rp 1.300-1.400 per kilogram. Penurunan harga tersebut membuat petani sepertinya kewalahan.

"Tapi sekarang sudah lumayan lah. Sudah tembus Rp 1000 (per kilogram). Mudah-mudahan bisa naik lagi," cetus Munadi.

Pria berusia 32 tahun ini menguraikan jika harga singkong berada di kisaran Rp 1.300-1.400, dalam setahun ia bisa mengumpulkan omzet sekitar Rp 80-100 juta. Bahkan, ia bercerita saat harga singkong di atas angin, mencapai Rp 1800, ia bisa memperoleh omzet hingga Rp 150 juta dalam setahun.

"Saya sih nggak muluk-muluk ya. Harga Rp 1400 aja sudah senang bener," timpal Munadi sambil terkekeh.

Untuk menyiasati jika harga singkong rendah, Munadi menjalankan usaha lain, yakni bengkel motor serta menjadi agen BRILink. Dari gerai BRILink, ia bisa menghasilkan Rp 5-6 juta yang disebutnya bisa mencukupi kebutuhan makan dan susu anak.

Munadi yang menjadi Ketua Gapoktan Fajar Bulan sejak tahun 2020 ini mengatakan, dengan usaha agen BRILink ini dirinya juga bisa membantu sesama warga di daerahnya. Sebab, kini agen BRILink dapat melayani pengajuan kredit ultra mikro.

"Saya senang lah bisa membantu warga lain. Begitu mereka butuh modal, bisa ajukan kredit lewat saya nanti saya teruskan ke mantri (BRI) untuk diproses. Mereka (warga) jadi bisa mengembangkan usahanya," urai Munadi.br

detikcom bersama BRI mengadakan program Sinergi Ultra Mikro di Bandar Lampung dan Semarang untuk memantau upaya peningkatan inklusi finansial masyarakat melalui sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM dalam Holding Ultra Mikro. Holding Ultra Mikro berupaya mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan untuk peningkatan UMKM di Tanah Air.


Untuk informasi lebih lengkap, ikuti beritanya di https://sinergiultramikro.detik.com/.

(mul/ara)