Teten Takjub Koperasi Bisa Produksi Gula Semut 100 Ton/Bulan

Arbi Anugrah - detikFinance
Sabtu, 25 Sep 2021 21:30 WIB
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki/Foto: Kemenkop UKM

Sementara menurut Koperasi Usaha Bersama (KUBE) Manggar Jaya, Akhmad Sobirin mengatakan jika di tahun 2021 ini pihaknya telah menggandeng 10 desa dan lima kecamatan di Kabupaten Banyumas untuk membentuk koperasi. Koperasi ini dibentuk untuk mewadahi semua kegiatan petani termasuk pasar, pemberdayaan, hingga manajemen.

"Kelompok tani tetap ada, tetapi untuk mewadahi kelompok tani semua kita buat yang namanya koperasi. Dengan kegiatan itu kemudian ada yang dari Astra juga yang namanya Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), di mana kami didampingi lebih ke arah pelatihan, lalu gimana kami bisa bekerja sama dengan pasar, dengan eksportir, dan ditargetkan oleh Astra di tahun 2021 kami bisa mandiri secara ekspor, yang tadinya kami dari 2012 produk kami sudah masuk ekspor, cuma masih ngisi ke pihak eksportir," ucapnya.

Dia mengaku jika saat ini pendampingan tidak hanya dari Astra, tapi juga dari Kementerian Koperasi dan UKM, Kementrian Perdagangan, dan hampir seluruh Kementerian saat ini ikut mendampingi.

"Pak menteri sampai hari ini ke sini memang karena ingin melihat kegiatan kami yang katanya menarik, dan beliau harus datang ke sini untuk melihat langsung," ucapnya.

Bahkan, dia mengatakan jika dari 10 desa binaan Koperasi Usaha Bersama (KUBE) Manggar Jaya, jika diakumulasikan seluruhnya. gula yang dihasilkan sudah mencapai 100 ton per bulannya.

Meskipun demikian, tidak semua gula dari 10 desa binaanya itu dapat diekspor. Masih terdapat tiga desa yang diakuinya saat ini masih belum seluruhnya membuat gula semut, karena kebanyakan dari petani di tiga desa tersebut masih memanfaatkan air nira kelapa yang merupakan bahan baku gula semut digunakan untuk membuat tuak.

"Ada tiga desa yang memang belum ke gula kristal (gula semut atau gula kelapa). Bahkan itu juga jadi visi misi kami, karena itu pola yang kurang baik, karena memang mereka produksi, tapi air niranya dijual untuk bahan tuak. Jadi ini salah satu program kami agar mereka harus berubah. Ada satu desa Cibangkong yang tadinya full membuat tuak, sekarang sudah produksi gula kristal semua dan di sana ada 100 petani," jelasnya.


(arb/ara)