Blak-blakan Dirut BIJB

Dirut Bandara Kertajati: Kini Mati Suri, Dahsyat 5-10 Tahun Lagi

Deden Gunawan - detikFinance
Senin, 27 Sep 2021 07:00 WIB
Jakarta -

Direktur Utama Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Salahudin Rafi mengakui selama pandemi Covid-19 kondisi di bandara yang dipimpinnya seperti mati suri karena nihil penerbangan. Tapi kondisi serupa juga dialami oleh sekitar 50 bandara lainnya di Indonesia, juga berbagai bandara di dunia.

"Di Husein Sastranegara (Bandung) itu cuma ada dua penerbangan dalam 30 hari. Ada 15 bandara lain yang cuma melayani 1-2 penerbangan setiap minggu. Di negara-negara lain juga sama kena imbas pandemi," kata Salahudin saat ditemui tim Blak-blakan detik.com di kantornya, Jumat (24/9/2021).

Meskipun tidak ada penerbangan, dia melanjutkan, bukan berarti aktivitas di setiap bandara berhenti total. Petugas pemantau lalu lintas udara (air traffic control), pemadam kebakaran, petugas pengisian avtur, dan aparat terkait lainnya tetap disiagakan 24 jam. Sebab dalam praktiknya, kata Salahudin, di langit Majalengka setiap harinya ada sekitar 50 pesawat yang melintas antarnegara.

"Kalau tiba-tiba cuaca memburuk, kami harus siaga membantu menjadi bandara alternatif bagi pesawat yang perlu mendarat darurat. Atau perlu isi bahan bakar seperti pesawat militer AS awal Agustus kemarin," ujarnya.

Sejak pendaratan bersejarah pesawat kepresidenan pada 24 Mei 2018 hingga mulai pandemi, April 2020, bandara Kertajati melayani 6.300 penerbangan ke sejumlah daerah di tanah air dan penerbangan lintas negara. Jumlah penumpang yang terbang maupun mendarat lebih dari 600 ribu penumpang, dan 500 ton.

Seiring selesainya akses tol bandara dari Cipali pada akhir September dan tol Cisumdawu akhir 2021, Salahudin berharap bandara Kertajati akan bisa mulai beraktivitas pada November untuk menerbangkan jemaah umrah. Pada 2022, dia membuat target realistis akan ada 22 penerbangan perhari di Kertajati seperti kondisi pada 2019.

"Jangan lihat kondisi Kertajati saat ini sehingga ada yang menyebut seperti prasasti, tapi lihat 5-10 tahun ke depan. Ini akan menjadi bandara yang dahsyat," tegas mantan Direktur Pengembangan Bandara & Teknologi di PT Angkasa Pura II itu optimistis.

Ia merujuk kondisi Bandara Kualanamu yang berada di area hutan sawit. Tak sampai lima tahun kemudian tumbuh berbagai sektor bisnis di sekelilingnya. Di Kertajati pun kelak akan tumbuh pesat seiring makin baiknya akses ke bandara. Sebab saat ini pembangunan hotel bintang tiga dan apartemen dengan kapasitas 600 kamar sedang dalam proses pengerjaan.

(deg/zlf)