Pabrik Rokok Masih Cuan Segede 'Gaban' Meski Cukai Naik dan Pandemi

Tim detikcom - detikFinance
Senin, 27 Sep 2021 05:46 WIB
Harga rokok akan berubah seiring kenaikan cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok, yang rata-rata 12,5% mulai hari ini, Senin (1/2/2021).
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Kenaikan cukai rokok setiap tahunnya mengundang protes dari kalangan industri termasuk buruh yang bekerja di dalamnya. Kebijakan itu dikhawatirkan akan menggerus penjualan dan jumlah konsumen rokok.

Maklum saja, harga rokok di pasaran langsung terkerek saat kenaikan cukai rokok seperti pada 2020 yang naik 23% dan 2021 naik 12,5%. Para industri dan buruh pun khawatir kenaikan harga rokok itu akan mempengaruhi penjualan dan pada akhirnya bisa mengancam masa depan mereka.

Faktanya, keresahan para industri dan buruh rokok tampaknya tak begitu terlihat jika melihat kinerja emiten rokok secara keseluruhan. Penelusuran detikcom menemukan, pabrik rokok besar yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mencatat laba, bahkan ada yang labanya naik meski tarif cukai rokok naik dan industri dihantam pandemi COVID-19.

Contohnya saja PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM), yang membukukan kinerja positif sepanjang 2020 di mana laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meroket 531,57% dari Rp 27,27 miliar pada 2019 menjadi Rp 172,24 miliar pada 2020.

Kinerja positif itu berlanjut hingga semester I-2021 di mana laba bersih Wismilak mencapai Rp 63,10 miliar atau naik sekitar 44,4% dibandingkan laba bersih tahun berjalan pada semester I-2020 yang sebesar Rp 43,7 miliar.

Sepanjang enam bulan pertama di 2021, penjualan sebesar Rp 1,18 triliun atau naik sekitar 42% dibandingkan pada paruh pertama 2020 sebesar Rp 829,26 miliar. Raihan itu paling banyak berasal dari penjualan domestik yang secara umum mencatatkan kenaikan.

Rinciannya, paling besar berasal dari sigaret kretek mesin (SKM) sebesar Rp 846,94 miliar atau naik 59,6% yoy, sigaret kretek tangan (SKT) naik 4,6% yoy sebesar Rp 217,43 miliar, namun cerutu turun 16,85% menjadi Rp 607,61 juta di semester I-2021.

Emiten rokok lainnya seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM) juga masih mencatatkan laba bersih sepanjang 2020, meskipun turun. Laba bersih ambles 29,71% menjadi Rp 7,65 triliun pada 2020, dari tahun sebelumnya sebesar Rp 10,88 triliun.

Begitu juga untuk kinerja semester I-2021, laba bersih Gudang Garam masih terkoreksi 39,53% atau Rp 2,31 triliun dari Rp 3,82 triliun pada semester I-2020. Meskipun laba bersih merosot, pendapatan perusahaan naik.

Pendapatan Gudang Garam pada 2020 naik sebesar 3,58% dari Rp 110,52 triliun pada 2019, menjadi Rp 114,48 triliun. Pada semester I-2021 juga naik 12,92% yoy menjadi Rp 60,58 triliun dari Rp 53,65 triliun pada semester I-2020.

PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) juga masih mencatat perolehan laba sepanjang semester I-2021 meski mengalami penurunan sebesar 15,29% menjadi senilai Rp 4,13 triliun, dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,88 triliun.

Jumlah konsumen rokoknya juga terbilang naik tercermin dari pendapatan perusahaan yang tumbuh 6,47% yoy menjadi Rp 47,62 triliun, bertambah dari posisi akhir Juni 2020 yang sebesar Rp 44,73 triliun.

Meski begitu, ada emiten rokok yang mengalami kerugian yakni PT Bentoel International Investama Tbk (RMBA), yang mencatatkan rugi bersih Rp 2,67 triliun pada 2020. Pada tahun sebelumnya, emiten rokok milik British American Tabacco itu mencatatkan laba bersih Rp 50,6 miliar.



Simak Video "Bea Cukai Jambi Bongkar Penyelundupan 107 Koli Rokok Ilegal"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)