Depperin Minta IFC 'Selamatkan' Industri Tekstil
Rabu, 12 Apr 2006 12:37 WIB
Jakarta - Departemen Perindustrian minta anak perusahaan Bank Dunia yakni International Finance Corporation (IFC) membantu upaya penyelamatan industri tekstil Indonesia yang kini tengah sekarat. Permintaan itu juga sudah disampaikan kepada Presiden Bank Dunia Paul Wolfowitz saat menemui sejumlah menteri."IFC kan punya dana US$ 500 juta. Itu yang mau kita negosiasikan agar sekitar US$ 250 juta bisa dialokasikan ke industri tekstil yang dianggap perlu mendapat dukungan pendanaan untuk restrukturisasi permesinan," kata Menperin Fahmi Idris disela-sela dialog nasional tentang kondisi industri TPT di Depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (12/4/2006).Hadir dalam kesempatan tersebut adalah Mendag Mari Elka Pangestu, Dirjen Bea Cukai Eddy Abdurrahman, Ketua Komisi VI Didik J Rachbini, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno, Ketua Aperindo Handaka Santosa dan sejumlah bankir.Dana sekitar US$ 250 juta itu selanjutnya akan dikucurkan untuk sejumlah perusahaan tekstil. Namun Fahmi belum bersedia merinci. Permintaan itu, kata Fahmi, sudah disampaikan saat mempresentasikan masalah industri khususnya tektil di depan Bank Dunia. Namun menurut Fahmi, Bank Dunia lebih fokus ke pendanaan yang langsung government to government (g to g), sedangkan masalah yang disampaikan adalah business to business (b to b)."B to B di-handle oleh IFC yang merupakan sister company Bank Dunia. Saya lebih prefer ke skema IFC karena Bank Dunia tidak mungkin. Bank Dunia lebih fokus ke program pemerintah seperti infrastruktur," jelas politisi dari Golkar ini. Rencananya, pemerintah akan mengundang IFC untuk membahas penyelamatan industri tekstil pada pekan depan. "Saya harap ada pembicaraan minggu depan dengan IFC," tambahnya.Yang pasti, masalah utama dari industri tekstil saat ini adalah peremajaan mesin yang kini sudah tua dan boros energi sehingga produktifitasnya rendah yang mengakibatkan daya saing menurun. Fahmi mengungkapkan, saat ini masih banyak mesin tekstil yang umurnya di atas 20 tahun.Restrukturisasi permesinan tekstil dan produk tekstil (TPT) diperkirakan menelan dana sekitar US$ 5 miliar. Dari kebutuhan tersebut, perbankan nasional diperkirakan menyumbang sekitar US$ 100 juta. Namun menurut Fahmi, sejauh ini belum ada komitmen apapun dari perbankan. Pemerintah sudah mengusulkan adanya subsidi pinjaman bunga bagi industri TPT yang akan melakukan peremajaan mesin. "Subsidi bunga telah kita usulkan, tapi ini masih harus dilakukan pembahasan di BI. Sebab ini masih area kewengan BI. Sampai sekarang BI tanggapannya masih sedang dipelajari, tapi tidak ditolak," tandas Fahmi.IFC Salurkan Dana Untuk UKMDi tempat terpisah, Paul Wolfowitz mengatakan, IFC akan menyalurkan dananya ke bank-bank swasta yang mengucurkan kredit UKM. "Tetapi Bank Dunia tidak akan membangun bank sendiri, hanya menyalurkan ke bank-bank lokal," ujar Wolfowitz usai bertemu Wapres Jusuf Kalla di Kantor Wapres.
(qom/)











































