Alert! Rantai Pasok Global Dalam Bahaya

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 30 Sep 2021 09:15 WIB
Kapal Kontainer Raksasa Terbesar di Dunia
Foto: Dok. Xinhuanet/Wu Lu
Jakarta -

Hingga saat ini banyak pelaut, pengemudi truk, dan pekerja maskapai penerbangan telah menjalani karantina, pembatasan perjalanan, persyaratan vaksinasi hingga menjalani tes Covid-19 yang kompleks guna menjaga rantai pasokan yang terus bergerak selama pandemi.

Namun saat ini banyak di antara mereka yang sekarang telah mencapai titik puncak dan tidak dapat bekerja lagi. Tentu hal ini dapat menimbulkan ancaman lain terhadap jaringan pelabuhan, kapal kontainer, dan perusahaan truk yang berperan sangat penting dalam menggerakkan rantai pasokan global.

Melansir CNN, Kamis (30/9/2021), dalam sebuah surat terbuka yang disampaikan pada Rabu (29/9/2021) kemarin kepada para kepala negara yang menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Kamar Perkapalan Internasional (ICS) dan kelompok industri lainnya memperingatkan kalau sistem transportasi global dapat 'putus' jika pemerintah tidak memulihkan kebebasan bergerak bagi pekerja transportasi dan memberikan mereka prioritas untuk menerima vaksin yang diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

"Rantai pasokan global mulai melemah karena ketegangan selama dua tahun pada pekerja transportasi," tulis kelompok itu.

Surat tersebut juga telah ditandatangani oleh International Air Transport Association (IATA), International Road Transport Union (IRU) dan International Transport Workers' Federation (ITF) di mana bersama-sama mereka mewakili 65 juta pekerja transportasi di seluruh dunia.

"Semua sektor transportasi juga mengalami kekurangan pekerja, dan berharap lebih banyak yang pergi sebagai akibat dari perlakuan buruk yang dihadapi jutaan orang selama pandemi, menempatkan rantai pasokan di bawah ancaman yang lebih besar," tambahnya.

Selain itu kondisi rantai pasokan global ini dikatakan dapat saja memburuk. Guy Platten, sekretaris jenderal ICS, mengatakan bahwa kekurangan pekerja kemungkinan akan memburuk menjelang akhir tahun karena adanya kemungkinan di mana banyak pelaut tidak ingin memperpanjang kontrak baru.

Di awal pandemi, banyak pelaut setuju untuk memperpanjang kontrak mereka selama beberapa bulan untuk menjaga pasokan makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan barang konsumsi lainnya mengalir ke seluruh dunia.

Menurut ICS, pada puncak krisis pandemi covid-19 pada tahun 2020, 400.000 pelaut tidak dapat meninggalkan kapal mereka untuk pergantian awak. Bahkan dikabarkan kalau beberapa dari mereka telah bekerja selama 18 bulan di luar kontrak awal mereka.

Karenanya bila kondisi ini tidak dapat terselesaikan dengan segera, maka hal ini tentu dapat menambah tekanan pada rantai pasokan global.

Lihat juga video 'Jokowi Puji Ekspor Pertanian RI Naik Meski Dihantam Pandemi Covid-19':

[Gambas:Video 20detik]



(eds/eds)