Ada Deflasi Kedua di 2021, Daya Beli Lesu?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 01 Okt 2021 09:27 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan perkembangan harga selama Januari 2015. Bulan lalu, terjadi inflasi negatif atau deflasi 0,24% dibandingkan bulan sebelumnya. Pernyataan itu dikemukakan Kepala BPS Suryamin dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (02/02/2015).
Ilustrasi/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

BPS mencatat terjadi deflasi 0,04% sepanjang September 2021. Ini adalah deflasi kedua di tahun ini, setelah terakhir di Juni terjadi deflasi 0,16%. Apakah ini jadi pertanda menurunnya daya beli?

Kepala BPS Margo Yuwono menjelaskan, penyebab utama deflasi September 2021 adalah telur ayam ras yang andilnya 0,07%. Kemudian disusul cabai rawit 0,03%, dan ketiga adalah bawang merah 0,03%. Artinya harga-harga barang tersebut mengalami penurunan.

"Dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, deflasi September ini dipengaruhi makanan, minuman, tembakau yang berikan andil ke deflasi 0,12%" katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (1/10/2021).

Deflasi September 2021 didorong deflasi harga bergejolak yang memberikan andil 0,15%. Dari andil sebesar ini, komoditas yang mendorong deflasi adalah telur ayam ras, cabai rawit, bawang merah, dan cabai merah.

"Komponen inti 0,09% andilnya. Komponen inti komoditas dominan adalah sewa rumah andilnya 0,01%. komoditas komponen inti deflasi adalah emas perhiasan, ikan segar berikan andil 0,01%" kata Margo.

Pada harga yang diatur pemerintah, komoditas pendorong deflasi di antaranya tarif angkutan udara yang berandil 0,01%. Sedangkan komoditas pendorong inflasi adalah bensin, rokok putih kretek filter yang berikan andil 0,01%.

(kil/eds)