Utang AS hingga Evergrande Jadi Sorotan, Apa Pengaruhnya ke RI?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 01 Okt 2021 13:11 WIB
Evergrande
Foto: Evergrande (M Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta -

Utang Amerika Serikat (AS) dan raksasa properti China, Evergrande tengah menjadi perhatian dunia. Masalah ini dikhawatirkan akan berpengaruh ke ekonomi global.

Utang AS mencapai US$ 26,95 triliun atau sekitar Rp 386,36 ribu triliun. AS terancam gagal bayar utang, bahkan pemerintahnya blak-blakan kehabisan uang untuk membayar utang tersebut. Oleh karena itu, pemerintah tengah mendorong kenaikan batas uang (debt ceiling).

Sementara, Evergrande terancam bangkrut karena kesulitan membayar utang dan bunga utang. Total utang perusahaan tersebut mencapai US$ 300 miliar.

Lalu, bagaimana dampaknya ke Indonesia?

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menjelaskan, kenaikan batas utang bukan pertama kali muncul di AS.

"Jadi ini justru memang menarik, kita masih sangat jauh sekali dari debt limit kita. Kita berada 40% mungkin tahun ini, debt limit kita itu di 60%. Amerika debt limit dalam bentuk nominal, jadi memang agak awkward kenapa debt limitnya dalam bentuk nominal," katanya dalam webinar, Jumat (1/10/2021).

Dia menuturkan, perdebatan mengenai batas utang itu pernah terjadi sebelumnya. Hal itu membuat peringkat AS turun dari AAA menjadi AA. Dia bilang, masalah utang ini akan sangat terasa di Negeri Paman Sam, namun sangat terbatas ke Indonesia.

"Kalau yang waktu itu memang ada dampaknya ke dunia, lalu kemudian transmisinya ke Indoensia, tapi sangat terbatas ke Indonesia-nya," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ekonom PT Bank UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja juga mengatakan, dampak masalah utang AS ke Indonesia juga sangat minim.

"Kalau Amerika Serikat menurut saya ini agak lucu, karena sebenarnya mereka sudah approve dan lalu perlu di-approve financingnya. Jadi sbenarnya buat saya this is like a game, tapi dampaknya kita sudah liat, dampak debt ceiling dan sebagainya ini sangat minim," katanya.

Terkait dengan Evergrande, dia menuturkan, memang meningkatkan persepsi risiko. Meski begitu, dia menuturkan, kondisinya sangat berbeda dengan risiko sistemik yang terjadi di tahun 2008.

"Saat ini, utang Evergrande memang besar US$ 300 miliar itu 2,5% GDP Tiongkok, tapi sebagian besar lebih dari 98% adalah mata uang lokal. Jadi mungkin dampaknya akan sangat temporer atau tidak ada. Kalau kita lihat, kita punya CDS, credit default swap itu hanya naik sedikit lalu turun lagi. Jadi istilah kata, market setuju bahwa problem sangat domesticated," katanya.

(acd/das)