Pertamina Batalkan Rencana Kenaikan Harga Elpiji
Kamis, 13 Apr 2006 00:52 WIB
Jakarta - PT Pertamina membatalkan rencana kenaikan harga gas elpiji pada 1 Mei nanti. Hal itu dilakukan menyusul keberatan dari masyarakat."Kita tidak menaikkan 1 Mei nanti. Kita masih mengkajinya," kata Wakil Direktur Utama Pertamina Iin Arifin Takhyan usai rapat di Departemen Keuangan, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (12/11/2006) malam.Humas Pertamina M Harun mengatakan, Pertamina akan menunggu sampai kondisi memungkinkan bagi konsumen untuk menerima kenaikan harga sampai mendekati nilai keekonomian."Idealnya harga gas elpiji sudah mencapai keekonomiannya pada tahun ini sesuai dengan perhitungan yang kami sampaikan sebelumnya. Tetapi, Pertamina juga harus melihat kepentingan masyarakat," kata Harun.Sebelumnya, Pertamina memang merencanakan kenaikan harga elpiji. Hal itu disampaikan pihak Pertamina akhir pekan lalu. Alasan utama BUMN tersebut adalah mereka harus menanggung kerugian sampai Rp 1,88 miliar per tahun karena harga jual elpiji yang di bawah harga produksi. Tidak hanya sekadar menaikkan, Pertamina bahkan berencana menyesuaikan harga jual gas elpiji, hingga mencapai harga keekonomiannya pada tahun ini juga dengan kenaikan secara bertahap.Berdasarkan skenario Pertamina, pada tahap pertama 1 Mei 2006 harga gas elpiji rumah tangga naik dari Rp 4.250 per kilogram menjadi Rp Rp 4.750 per kilogram. Sedangkan, harga gas elpiji untuk industri akan naik Rp 1.000-Rp 1.250 per kilogram, dari harga saat ini.Harga jual gas elpiji untuk industri, akan kembali dinaikkan pada bulan Juni hingga sampai ke harga keekonomian sekitar Rp 6.900-Rp 7.000 per kilogram. Sedangkan, untuk rumah tangga, kenaikan dilakukan lebih dari dua kali untuk menyesuaikan dengan kemampuan masyarakat.Konsumsi gas elpiji nasional sekitar 3.400-3.500 ton per hari. Sekitar 82 persen dipenuhi dari kilang-kilang milik Pertamina, sisanya 15-16 persen dipasok dari gas elpiji yang dibeli dari kontraktor bagi hasil, dan 2-3 persen melalui impor.Kenaikan harga gas elpiji terakhir dilakukan pada Desember 2004. Pihak Pertamina mengatakan efisiensi pengolahan elpiji di kilang sudah dilakukan. Namun, karena minyak mentah impor sebagai bahan baku yang diolah di kilang terus naik, biaya produksi gas elpiji sebagai produk turunannya juga ikut naik.Setiap harinya kilang-kilang Pertamina mengolah 1,05 juta barrel minyak mentah. Sekitar 50 persen dari minyak mentah yang diolah, diimpor dari Timur Tengah.Saat ini harga minyak mentah di pasar internasional masih berada di atas 60 dollar AS per barrel. Dibandingkan Desember 2004, biaya operasi kilang Pertamina sudah naik lebih dari 23 persen.
(fay/)











































