Mendag Pede RI Bisa Kejar Defisit Dagang dengan China, Kapan?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 07 Okt 2021 18:10 WIB
Mendag M Lutfi
Mendag M Lutfi/Foto: Dok. Kemendag
Jakarta -

Neraca dagang Indonesia dengan China kerap defisit selama bertahun-tahun. Namun, Menteri Perdagangan M Lutfi yakin di tahun 2023 Indonesia bisa mengejar ketertinggalan tersebut.

Dia bilang saat ini Indonesia sudah berada di jalan menuju industrialisasi, komoditas ekspor yang jadi andalan sudah bergeser ke barang jadi bukan lagi barang mentah. Hal ini bisa jadi modal mengejar defisit dagang dengan China.

Lutfi mencontohkan salah satu komoditasnya adalah baja stainless steel. Menurutnya, ekspor stainless steel di tahun 2020 sudah mencapai US$ 10,86 miliar. Saat ini Indonesia telah menjadi pusat produksi besi baja, dia mengklaim Indonesia podusen stainless steel nomor dua di dunia.

"Tidak bisa saya bayangkan sama saya sejak jadi Kepala BKPM kita ini sudah jadi powerhouse di bidang besi baja. Sekarang kita penghasil besi baja stainless steel nomor dua di dunia," kata Lutfi dalam Indonesia Knowledge Forum 2021, Kamis (7/10/2021).

Baja banyak diekspor ke China yang juga membanjiri pasar lokal dengan barang impor. Dia mengatakan meskipun baja Indonesia kena pajak tambahan ke China, namun pertumbuhan ekspor di Januari-Agustus naik pesat.

"Meski kita diganggu pajak tambahan karena dianggap antidumping daripada besi baja kita ke China, tapi pertumbuhan di Januari-Agustus kemarin 92% tumbuhnya dibanding tahun lalu," ungkap Lutfi.

Yang banyak bertumbuhnya juga adalah sektor industri otomotif. Dia bilang Indonesia saat ini menjadi pusat produksi mobil. Meski tahun lalu turun 20% produksinya, di tahun ini sudah naik 50% daripada tahun lalu.

"Pertumbuhan otomotif kita, sekarang kita jadi center production mobil. Kita sudah evolusi dari barang setengah jadi menjadi penjual barang industri dan teknologi tinggi," ungkap Lutfi.

Dengan fakta-fakta tersebut dia yakin Indonesia mampu mengejar defisit perdagangan dengan China. Dia mengatakan sejak tahun 2004, neraca dagang Indonesia-China selalu defisit. Dengan produk-produk hilirisasi unggulan Indonesia dia meyakini defisit perdagangan dengan China bisa dikejar di tahun 2023 atau 2024.

"Dalam tahun 2023 atau 2024, perdagangan yang selama ini selalu defisit akan mendapatkan keseimbangan baru. Karena kita bangunkan industrialisasi dan hulu industri tambang kita," kata Lutfi.

(hal/ara)