Waduh! Ada Ancaman Besar buat Ekspor Produk RI ke Eropa

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 07 Okt 2021 19:40 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat di Jakarta International Container Terminal, Jakarta Utara, Rabu (5/9/2018). Aktivitas bongkar muat di pelabuhan tetap jalan di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpuruk. Begini suasananya.
Ilustrasi/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan saat ini banyak negara mulai memberikan standar tinggi untuk produk impor. Barang-barang akan diterima dengan syaratnya proses produksinya ramah lingkungan.

Hal ini sudah banyak terjadi pada negara maju di Eropa. Menurutnya, negara-negara ini akan menerapkan tambahan pajak dan tarif untuk barang-barang yang tidak ramah lingkungan. Dia mengatakan hal itu dinamakan carbon tax adjustment.

"Jadi untuk beberapa produk, seperti baja, semen, dan produk hulu industri lainnya ketika masuk Eropa mereka akan menaruh dan menerapkan pajak carbon adjustment. Menurut hemat saya, ini bagian yang menghimpit dan menghalangi perdagangan," ungkap Lutfi dalam Indonesia Knowledge Forum 2021, Kamis (7/10/2021).

Bagi produk-produk Indonesia sendiri, Lutfi mengaku dirinya telah mengultimatum Duta Besar Uni Eropa agar tidak dikenakan carbon tax adjustment.

Menurut Lutfi kalau sampai ada negara Eropa menerapkan hal itu ke produk Indonesia, Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan menuntutnya ke Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO).

"Saya sudah bilang ke Dubes Uni Eropa, kalau sampai negara Eropa kerjakan itu (terapkan carbon tax) ke barang Indonesia saya akan tuntut ke WTO," tegas Lutfi.

Di sisi lain, Lutfi memaklumi, tren perdagangan saat ini memang menekankan ramah lingkungan. Kemendag pun sedang menyusun struktur baru agar produk ekspor Indonesia dibuat dengan proses ramah lingkungan.

"Tapi ini tren dagang, kalau nggak di-adress hari ini, maka barang kita akan mendapatkan tantangan luar biasa. Maka ini harus ada struktur baru di produk Indonesia agar bisa jadi barang-barang ramah lingkungan dan sustainable," kata Lutfi.

(hal/hns)