Bos-bos Perusahaan Besar AS Tak Yakin Ekonomi Segera Pulih, Kenapa?

Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 08 Okt 2021 12:36 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Sejumlah pemimpin bisnis di Amerika Serikat (AS) kurang optimistis dalam menghadapi pemulihan ekonomi. Sebagian besar di antara mereka menyalahkan varian Delta dan pasar tenaga kerja yang sangat ketat dalam menangani penurunan sentimen buruk terhadap kondisi ekonomi saat ini.

Melansir dari CNN, Jumat (8/10/2021), berdasarkan penelitian yang dikeluarkan oleh The Conference Board, dikatakan bahwa terdapat penurunan tajam dalam indeks kepercayaan CEO terhadap pemulihan ekonomi untuk kuartal ketiga.

Kekhawatiran Covid-19 tetap menjadi perhatian utama bagi para raksasa industri Amerika.

"Kepercayaan CEO turun dari puncak sepanjang masa yang dicapai pada Q2, ketika Covid-19 muncul di ambang kekalahan," kata kepala ekonom di Conference Board, Dana Peterson dalam sebuah rilis.

"Lonjakan musim panas dari varian Delta yang sangat menular, ditambah dengan tingkat vaksinasi yang merosot telah membawa ketidakpastian pandemi kembali ke permukaan."

Conference Board, yang menghasilkan survei bersama dengan Business Council, melaporkan bahwa 88% CEO yang disurvei pada kuartal kedua mengatakan mereka memperkirakan kondisi ekonomi secara keseluruhan akan membaik selama enam bulan ke depan. Namun tingkat kepedean para bos asal Amerika ini turun cukup drastis, hanya 60% responden yang merasa seperti itu di kuartal ketiga ini.

Terlebih lagi, berdasarkan hasil survei pada kuartal ketiga, hanya 65% eksekutif perusahaan yang mengatakan bahwa mereka mengantisipasi prospek jangka pendek untuk industri mereka sendiri akan meningkat. Nilai ini turun bila dibandingkan dengan hasil survei pada kuartal ke dua yang sebesar 81%.

Berdasarkan hasil survei tersebut, kondisi pasar kerja adalah tantangan besar lainnya. 60% CEO mengatakan mereka berharap untuk memperluas jumlah karyawan, naik dari 54% di Q2. Namun posisi pekerjaan yang terbuka semakin sulit untuk diisi.

Hampir tiga perempat dari CEO yang disurvei mengatakan pada kuartal ketiga bahwa mereka kesulitan menemukan pekerja berkualitas, naik 18% bila dibandingkan dari laporan sebelumnya.

"Bisnis keluar dari mode bertahan hidup pandemi dan ingin berkembang, berinvestasi, dan merekrut," kata Roger Ferguson, wakil ketua Dewan Bisnis dan wali Dewan Konferensi.

"Ini telah mempercepat kondisi kurangannya tenaga kerja yang terlihat sebelum pandemi, sekarang diperburuk oleh kegigihan virus yang keras kepala, yang membuat banyak pekerja tidak dapat atau enggan masuk kembali ke dunia kerja," tambah Ferguson, mantan wakil ketua Federal Reserve dan mantan CEO TIAA.

(zlf/zlf)