Indonesia Jangan Utang Lagi
Senin, 17 Apr 2006 09:27 WIB
Jakarta - Indonesia mendapat tawaran menggiurkan dari Bank Dunia untuk kembali berutang. Namun tawaran ini harus disikapi hati-hati dengan melihat multiplier ekonominya. Sebaiknya Indonesia untuk menunda keinginan untuk berutang lagi."Kita bicara tentang apakah pinjaman ini bisa menghasilkan sesuatu yang positif bagi ekonomi atau tidak. Seperti, angka pengangguran berkurang, pertumbuhan naik, sehingga efek ekonomi jadi lebih besar," kata pengamat ekonomi Aviliani ketika dihubungi detikcom Senin (17/4/2006).Aviliani menyarankan, supaya pemerintah tidak melakukan pinjaman terlebih dahulu, karena utang pemerintah baru bisa terbayar dalam 15 tahun mendatang. "Sebaiknya pemerintah harus bisa memikirkan apakah bisa membayar utang tersebut atau tidak, sebelum mengambil keputusan untuk mengutang kembali. Karena kita harus bayar utang Rp 90 triliun dan ditambah utang baru jika jadi maka mencapai Rp 30 triliun," tandasnya. Menurut Aviliani kemudahan yang diberikan lembaga donor supaya Indonesia kembali berutang sebagai trik saja untuk menjadikan Indonesia sebagai negara pengutang.Lebih lanjut Aviliani mengemukakan, hal tersebut dapat terjadi dikarenakan Indonesia merupakan negara yang paling mudah untuk dikendalikan sebagai akibat ketergantungan atas utang."Kalau pertanggung jawaban tahap I dianggap belum selesai maka tahap kedua ditunda, tetapi kita harus membayar komitmen yang ujung-ujungnya menjadi mahal," jelasnya.Sebelumnya Presiden Bank Dunia Paul Wolfowitz dalam kunjungannya ke Indonesia beberapa hari lalu menyatakan Indonesia memiliki persyaratan untuk melakukan pinjaman maksimal kepada Bank Dunia sebesar US$ 1,4 miliar.Hal ini menimbulkan reaksi berbagai pihak, diantaranya dari Koalisi Anti Utang yang menegaskan penolakannya terhadap rencana bantuan tersebut. Karena hal itu akan membebani anggaran pemerintah tahun 2009 ini.
(mar/)











































