14 BUMN Bangun Subway
Senin, 17 Apr 2006 14:54 WIB
Jakarta - Kemacetan di Jakarta sudah makin parah. Kerugiannya mencapai Rp 13 triliun per tahun. Salah satu solusinya adalah subway. Sebanyak 14 BUMN pun keroyokan membangun fasilitas transportasi massal itu.Komitmen 14 BUMN konstruksi dituangkan dalam MoU yang ditandatangani Senin (17/4/2006) siang ini di Kantor Menneg BUMN, Jalan Wahidin, Jakarta. Penandatanganan disaksikan Sekretaris Menneg BUMN Said Didu. Konsorsium itu diberi nama Jakarta Metro System (JMS). Konsorsium ini nantinya akan membangun sebuah sistem transportasi di Jakarta. Tujuan JMS untuk membantu memecahkan masalah kemacetan lalu lintas di Jakarta yang setiap tahunnya diperkirakan berdampak kerugian material sebesar Rp 13 triliun. Konsorsium ini akan mencari sebuah proposal alternatif untuk pembangunan sistem subway satu jalur sepanjang 15,4 kilometer mulai dari Lebak Bulus, Fatmawati, Senayan, Dukuh Atas dan Bundaran HI. Subway satu jalur itu nantinya akan terdiri dari under groundline dan elevated line dengan 11 stasiun.Adapun perkiraan awal untuk membiayai proyek ini sebesar US$ 550 juta yang terdiri dari estimasi biaya konstruksi, estimasi biaya kereta dan operasional serta biaya-biaya untuk pembebasan tanah. Pembangunan JMS dilakukan dengan biaya lebih ringan dan skema finansial yang melibatkan swasta, BUMN dan BUMD. "Karena ada keterlibatan pemerintah yang menanggung kurang lebih 50 persen dari pembiayan, jadi proyek ini terlihat lebih menarik karena dijamin APBN," kata Dirut PT Adi Karya Saiful Imam. Pembangunan konstruksi diperkirakan akan dilakukan pada tahun 2007 dan dalam waktu 3 tahun yakni 2010 atau 2011 sudah bisa dioperasionalkan. Nantinya para anggota konsorsium akan mendirikan joint venture company yang akan mengusahakan konsesi dari pemerintah dengan jangka waktu 30 tahun.Financial advisor nantinya akan ditangani oleh Danareksa Sekuritas. Lalu kontraktor sipil dan struktur akan ditangani oleh Adhi Karya, Hutama Karya, Wijaya Karya, Waskita Karya, Pembangunan Perumahan (PP), PT Indah Karya, PT Sakla Adiparada, PT Global Profek Sinergi. Suplier dan vendor untuk pengadaan rolling stock akan ditangani oleh PT LEN, PT Inka dan PT Bukaka Transystem. PT Bukaka seperti diketahui dimiliki oleh keluarga Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pengoperasionalannya nantinya akan ditangani oleh PT KA dan PT ITC.
(mar/)











































