Terpopuler Sepekan

Dalang di Balik Harga Telur Anjlok

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 16 Okt 2021 14:15 WIB
Menjelang hari Natal dan Tahun Baru, harga telur ayam di pasar tradisional merangkak naik.
 Harga telur ayam kini bertengger di Rp 28.000/kilogram.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Harga telur ayam terus turun. Hal ini membuat banyak peternak protes.

Berdasarkan pantauan Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi harga telur mencapai Rp 14 ribu - Rp 17 ribu per kilogram. Harga ini jauh dari harga acuan telur di dalam Permendag No.07/2020 yakni sebesar Rp 19 ribu hingga Rp 21 ribu per kilogram.

Ketua Pataka Ali Usman mengatakan jebloknya harga telur di pasaran disebabkan kelebihan pasokan. Disinyalir hal itu terjadi karena beberapa perusahaan besar ikut budi daya ayam petelur.

Berdasarkan aturan dari Kementerian Pertanian, pelaku usaha integrasi alias perusahaan besar hanya boleh melakukan budi daya sebanyak 2% saja, sedangkan 98% ditujukan untuk peternak rakyat. Namun yang terjadi lebih besar dari itu.

"Saat ini pelaku usaha integrasi mengusai ayam petelur mencapai 15% secara nasional. Pasokan telur berlebih sehingga harga telur anjlok sejak awal September," ungkap Ali Usman dalam keterangannya, Senin (11/10/2021).

Menurutnya banyak peternak ayam juga melakukan afkir dini alias mengurangi produksi ayam petelur karena tidak mampu menanggung kerugian yang berkepanjangan. Hal ini banyak dilakukan oleh peternak di Blitar dan Kendal.

Di sisi lain, jebloknya harga telur tidak dapat dihindari karena daya beli masyarakat turun akibat PPKM di berbagai daerah. Apalagi, industri hotel, restoran, dan kafe alias horeka yang cukup banyak menyerap telur ikut menahan pesanannya. Hal ini membuat pasokan telur berlebih di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, untuk menstabilkan harga ayam hidup dan telur hingga akhir tahun 2021, Ali menyarankan pemerintah menyerap ayam dan telur dari peternak untuk digunakan sebagai bansos masa PPKM. Bansos selain distribusi kepada masyarakat terdampak COVID-19.

Selain protes harga telur yang turun, peternak juga protes harga jagung yang meroket terus. Bagi para peternak tingginya harga jagung di pasaran membuat mereka keteteran.

Pasalnya, sebagian besar peternak ayam petelur merupakan peternak mandiri dan membutuhkan jagung sebagai bahan campuran pakan. Jumlahnya bahkan lebih besar dibandingkan peternak ayam pedaging, sehingga dengan kenaikan harga jagung membuat biaya produksi mereka meroket.

(kil/eds)