Terpopuler Sepekan

Biang Kerok Ekonomi Myanmar Gonjang-ganjing

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 16 Okt 2021 13:15 WIB
Kondisi ekonomi Myanmar sungguh sangat memprihatinkan.
Foto: Infografis detikcom/Luthfy Syahban
Jakarta -

Kondisi politik yang tidak menentu turut mempengaruhi perekonomian Myanmar. Apalagi pembatasan kegiatan sosial demi menekan COVID-19 juga mengantarkan Myanmar ke jurang kehancuran.

Dikutip dari Reuters, disebutkan pemerintahan militer Myanmar harus bertanggung jawab atas kondisi ini.

Sekarang, akibat krisis mata uang kyat menyentuh level terendah pada akhir September lalu. Juru bicara dewan militer Zaw Min Tun mengungkapkan jika bank sentral Myamar tidak bisa memenuhi permintaan dolar AS di negaranya.

Sejak awal September mata uang Kyat tercatat terus mengalami penurunan hingga lebih dari 60%. Kondisi ini turut mengerek harga pangan dan bahan bakar.

Padahal ekonomi Myamar sudah mengalami pemburukan sejak kudeta militer dilakukan pada Februari lalu. Zaw Min Tun menyebut jika pemerintah berupaya melakukan yang terbaik untuk negara.

Banyak toko emas dan jasa penukaran uang telah tutup di Myanmar karena gejolak tersebut, sementara kyat yang merosot telah menjadi topik hangat di jejaring media sosial. Warganet Myanmar juga memposting gambar panic buying di tempat pembelian bahan bakar, atau SPBU yang tutup karena kekurangan BBM.

Zaw Min Tun mengatakan ekonomi memburuk karena faktor luar serta virus Corona, tetapi tidak merinci apa itu.

"Kami memiliki tanggung jawab untuk membangunnya kembali," katanya berbicara tentang ekonomi Myanmar.

(kil/eds)