ADVERTISEMENT

Layanan 5G Meluncur, Bagaimana Kesiapannya di RI?

Tim Detikcom - detikFinance
Senin, 18 Okt 2021 11:21 WIB
LAS VEGAS, NV - JANUARY 08:  An attendee photographs a 5G logo display during a Qualcomm press event for CES 2018 at the Mandalay Bay Convention Center on January 8, 2018 in Las Vegas, Nevada. CES, the worlds largest annual consumer technology trade show, runs from January 9-12 and features about 3,900 exhibitors showing off their latest products and services to more than 170,000 attendees.  (Photo by David Becker/Getty Images)
Foto: Getty Images
Jakarta -

Sejumlah operator telekomunikasi berlomba untuk meningkatkan layanan menjadi 5G. Seiring dengan hal tersebut, produsen ponsel pun kini membidik produksi ponsel-ponsel yang mendukung layanan tersebut.

Layanan teknologi 5G di Indonesia perlu didukung sarana dan infrastruktur yang memadai. Bagaimana kesiapannya?

Ketua Forum 5G Indonesia Sigit Puspito Wigati mengatakan, hingga September 2021, ada 3 operator selular yang sudah mengadopsi teknologi 5G di Indonesia, yakni Telkomsel, Indosat dan XL. Sejumlah tantangan dihadapi operator dalam proses mengadopsi layanan itu.

"Sedangkan kesiapan secara bisnis, akan bergantung pada pengalaman di adopsi awalan ini, di mana semua mulai dari bisnis model eMBB. Di tengah tantangan masih berlangsungnya fenomena efek gunting dalam bisnis data" ujar Sigit, Senin (18/10/2021).

Pasalnya teknologi memiliki potensi ekonomi lebih besar dari sekedar penggunaan untuk komunikasi. Perusahaan teknologi harus mengembangkan penggunaan yang lebih masuk klasifikasi Massive IoT dan Low Latency.

Dia mengatakan, untuk menghadirkan layanan 5G yang mumpuni di Indonesia, diperlukan campur tangan banyak pihak. Karena ekosistem 5G dinilai kompleks dan luas.

Pemerintah perlu memastikan adanya aliran rantai nilai antara masing-masing ekosistem tersebut yang lebih memiliki sustainabilitas, bukan hanya keuntungan dari satu dua komponen dari ekosistem.

Menurut Sigit, roadmap implementasi 5G perlu dibuat dengan visi yang lebih jelas, milestone yang lebih jelas, dan poin aksi yang lebih jelas dalam jangka panjang menengah dan panjang.

Lanjut ke halaman berikutnya

Tak hanya faktor multiguna 5G dan potensi ekonominya yang besar, faktor lain yang harus dipertimbangkan dalam pembangunan infrastruktur 5G di Indonesia adalah cost atau biaya penyebaran 5G yang diperkirakan sekitar empat hingga 6 kali lebih besar dari teknologi 4G.

Meskipun begitu, Indonesia tetap harus segera mempersiapkan diri untuk menyambut teknologi 5G dan implementasinya di berbagai bidang, terutama di sektor IoT atau Internet of Things.

"Potensi 5G IoT sangat besar,menurut beberapa kajian bahkan 60% revenue 5G mungkin dari use case 5G IoT, sisanya 30% eMBB dan 10% mission critical. Tinggal masalah waktu saja, karena standarnya memang agak tertunda. Jadi di Indonesia perlu banyak dikembangkan berbagai use-case dan aplikasi yang terkait 5G IoT ini, bagus kalau sampai ketemu killer applicationnya. Bisa saja disayembarakan agar lebih banyak model use case baru" ungkap Sigit.

Dukungan semua pihak yang berkepentingan dalam mewujudkan roadmap 5G di dalam negeri sangatlah dibutuhkan. Lebih dari sekedar kemampuan 5G untuk komunikasi, perlu ada eksplorasi lebih jauh terkait penggunaan teknologi ini untuk dimanfaatkan di berbagai sektor potensial.



Simak Video "Aktifkan 5G Tidak Perlu Ganti Kartu, Asalkan..."
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT