RI Surplus 17 Bulan Berturut-turut, Memang Apa Itu Neraca Perdagangan?

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 18 Okt 2021 11:38 WIB
Setelah beberapa bulan mengalami defisit alias tekor, pada Mei 2019 posisi neraca perdagangan berbalik menjadi surplus.
RI Surplus 17 Bulan Berturut-turut, Memang Apa Itu Neraca Perdagangan?
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa hari yang lalu menyampaikan kabar gembira, neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mengalami surplus US$ 4,37 miliar.

Surplus itu terjadi karena ekspor pada September 2021 lebih besar dari nilai impornya. Tercatat ekspor mencapai US$ 20,60 miliar dan impor sebesar US$ 16,23 miliar. Menariknya lagi ternyata neraca dagang Indonesia tercatat surplus selama 17 bulan secara berturut-turut.

Mungkin bagi para pebisnis atau para pelaku ekonomi elit menyambut baik kabar tersebut. Tapi bagi masyarakat menengah ke bawah mungkin pengertian neraca perdagangan saja mereka tidak tahu.

Melansir Situs BPS, neraca perdagangan sendiri memiliki konsep definisi selisih antara nilai ekspor dan impor suatu negara pada periode tertentu. Rumusnya ekspor - impor = neraca perdagangan.

Apabila nilai ekspor lebih besar daripada nilai impor, maka terjadi surplus, sebaliknya apabila nilai ekspor lebih kecil daripada nilai impor maka terjadi defisit. Ekspor dan impor merupakan kegiatan ekonomi yang dilakukan antar negara.

Melansir Investopedia, para ekonom menggunakan data neraca perdagangan untuk mengukur kekuatan relatif ekonomi suatu negara. Sebuah negara yang mengimpor lebih banyak barang dan jasa daripada ekspor dalam hal nilai memiliki defisit perdagangan atau neraca perdagangan negatif. Sebaliknya, negara yang mengekspor lebih banyak barang dan jasa daripada yang diimpornya memiliki surplus perdagangan atau neraca perdagangan positif.

Surplus atau defisit neraca perdagangan tidak selalu merupakan indikator kesehatan ekonomi yang layak, dan harus dipertimbangkan dalam konteks siklus bisnis dan indikator ekonomi lainnya. Misalnya, dalam resesi, negara-negara lebih memilih untuk mengekspor lebih banyak untuk menciptakan lapangan kerja dan permintaan dalam perekonomian.

Namun pada saat ekspansi ekonomi, negara-negara lebih memilih untuk mengimpor lebih banyak untuk mendorong persaingan harga, guna membatasi laju inflasi.

(das/fdl)