Pertamina EP Minati CBM
Selasa, 18 Apr 2006 15:05 WIB
Jakarta - Demam coal bed methane (CBM) tengah merasuki sejumlah BUMN migas. Setelah PGN tertarik mengembangkan CBM, kini giliran Pertamina EP yang juga berkeinginan mengembangkan CBM.Pertamina sendiri mengaku mempunyai lapangan yang memiliki CBM seperti di Kalimantan dan Sumsel. Namun lapangan itu bukan lapangan batubara milik pengelola lainnya, mengingat CBM kebanyakan memang berada di wilayah kerja pertambangan batubara."Ketika kami melakukan pengeboran, biasanya terjadi indikasi gas split. Jadi itu adalah CBM, yaitu gas yang terperangkap. Jadi ketika kita akan mengebor 3.000 meter, sekitar 500 meter atau 1.000 meter biasanya ada gas yang cukup besar yang selama ini kita kesampingkan. Itulah CBM," ujar Dirut Pertamina EP Kun Kurnely di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (18/4/2006).Pertamina melihat ada potensi gas yang sangat besar yang selama ini dikesampingkan karena gas itu terperangkap dalam batubara. Potensi gas ini cukup besar, sekitar 330 triliun kaki kubik (TCF). Sedangkan di Sumsel, gas CBM itu sekitar 120 TCF.Diakuinya, teknologi CBM ini khususnya bagi ahli perminyakan di Indonesia masih sangat terbatas. Oleh karena itu, dirinya sebagai ketua Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia berinisiatif untuk menyelenggarakan konferensi internasional CBM pertama di Indonesia. "Harapan kita mengundang para pakar CBM dari AS, Australia, dan Cina yang sudah mengembangkan," ujarnya. Saat ini, diungkapkan Kun, sudah banyak investor asing yang berminat untuk pengembangan CBM ini. "Mereka sangat berminat. Australia, Jepang dan AS," tuturnya. Sekarang yang telah dilakukan Pertamina adalah melakukan pengkajian di Sumsel, khususnya di Prabumulih. "Ada indikasi suatu deposit yang cukup signifikan," urainya.Kun juga mengungkapkan, Medco dan Lemigas juga telah melakukan suatu kajian. "Beberapa perusahaan juga berminat datang ke saya untuk mengelola CBM di lapangan Pertamina," ungkapnya.Namun yang pasti, kata Kun, sudah ada perusahaan konsorsium nasional dengan perusahaan asing yang berminat. "Namanya Ephindo. Ada juga beberapa perusahaan lain," katanya. Dalam waktu dekat ini Pertamina akan menandatangani MoU dengan Ephindo."Biaya tergantung kedalaman. Per sumur US$ 1-2 juta. Pengeboran lebih mahal pengeboran minyak. Namun karena biasanya yang dibor lebih banyak sumurnya, maka total investasi lebih banyak," urai Kun.
(mar/)











































