Euforia Piala Thomas, Perajin Shuttlecock Tegal Kebanjiran Orderan

Imam Suripto - detikFinance
Rabu, 20 Okt 2021 15:45 WIB
Permintaan Shuttlecok di Tegal Melonjak
Foto: Imam Suripto

Naiknya permintaan ini, sayangnya tidak diikuti dengan ketersediaan bahan baku. Sehingga banyak perajin yang kuwalahan menggarap pesanan shuttlecock ini.

"Akan tetapi kami juga punya permasalahan, karena dengan semakin meningkatnya pesanan, otomatis kita butuh bahan baku yang cukup. Sedangkan untuk saat ini, masyarakat desa Lawatan yang notabenenya 60 persen home industri, kami punya masalah dengan bahan baku. Bahan baku ini sekarang sudah susah didapat. Bahkan banyak yang membeli bahan baku impor dari Taiwan dan lain," ungkap Kades Lawatan.

Soal kurangnya bahan baku diakui oleh slaaj satu perajin shuttlecock, Torikhin (36). Naiknya permintaan shuttlecock Desa Lawatan membuat para perajin kewalahan. Torikhin juga menyebut, demam piala thomas membuat naiknya jumlah pesanan.

"Semua bahanya susah, mulai dari bulu ayam, sampai komponen lainnya. Kalau tidak salah, awal pandemi 2020 dulu sempat turun pasokan bahan baku, karena PSBB. Nah sekarang, sejak pandemi berkurang, kembali normal, tapi ini kan berbarengan dengan lagi rame ramenya badminton. Indonesia juga menang, nah mungkin timingnya barengan, sedangkan produksi kan masih kurang banyak," ucap Torikhin.

Torikhin meneruskan, bahan baku membuat shuttlecock adalah bulu unggas seperti angsa maupun ayam. Bahan ini dipasok dari berbagai daerah dan ada yang produk impor. Perajin membeli bahan baku ini dengan harga Rp 80 tiap helai untuk bulu sedang dan Rp.125 bulu tebal.

Proses produksi shuttlecock ini dimulai dari pencucian bulu, pengguntingan, menjahit, pemasangan dan seterusnya sampai selesai. Untuk harga jual, tiap perajin mematok harga yang bervariatif mulai dari paling murah Rp.30 ribu sampai Rp.120 ribu. Harga jual ini tergantung dari jenis bulu unggas yang dipakai. Sementara, para pekerja dalam tiap slopnya mendapat upah Rp.7500.


(eds/eds)