Inacraft 2006 Targetkan Kenaikan Transaksi 100%
Rabu, 19 Apr 2006 12:44 WIB
Jakarta - Ajang International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2006 yang berlangsung untuk kedelapan kalinya, menargetkan transaksi perdagangan US$ 200-300 juta. Angka ini melonjak 100 persen dibanding tahun lalu yang sebesar US$ 150 juta.Inacraft 2006 yang digelar di Balai Sidang Jakarta Convention Center (JCC) dari 19-23 April, diikuti 1.600 unit usaha dari 30 provinsi dengan produk unggulan batik.Demikian diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi) Rudi Lengkong, disela acara pembukaan Incraft 2006. Acara dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan dihadiri Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menneg Koperasi dan UKM Suryadharma Ali dan Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Mufidah Kalla.Sejumlah pembeli dari mancanegara juga telah berdatangan seperti AS, Afrika Selatan, Malaysia, Jepang dan Eropa. Rudi memperkirakan, jumlah pembeli akan membludak sehingga nilai perdagangan akan lebih besar dari target yang ditetapkan.Dalam sambutannya SBY juga meminta agar pengrajin diberi kemudahan fasilitas ekspor. Menurut Rudi, fasilitas itu akan lebih baik jika diberikan dalam bentuk kredit ekspor tanpa agunan."Karena sekarang sulit dapat kredit ekspor. Pengrajin ngomel terus karena tidak diberi bank," ujar Rudi.Sementara Mendag Mari Elka Pangestu mengatakan, sudah ada 350 pembeli dari 45 negara yang telah menyatakan komitmennya dalam Inacraft ini. Saat ini, menurut Mari kontribusi pengrajin terhadap nilai ekspor masih relatif kecil dibanding migas, meskipun sektor ini mampu menyerap banyak tenaga kerja dan tersebar di seluruh provinsi.Jumlah pengrajin yang telah melakukan kegiatan ekspor sebanyak 3.500 unit usaha dengan masing-masing menyerap minimal 35 karyawan. Sementara yang belum melakukan ekspor sebanyak 6.800 unit usaha yang angkanya bisa bertambah karena belum tercatat.Selama ini, ungkap Mari, baru ada sepertiga pengrajin yang sudah memenuhi seni teknologi model dan produk (STMP). "Kalau ingin mengembangkan nilai dari proyeknya dan pasar, karena budaya dan seni Indonesia cukup besar dan merupakan potensi meningkatkan ekspor nonmigas," tutur Mari.
(ir/)











































