Di Pongkor Ada Peternakan Ayam Ramah Lingkungan, Seperti Apa Tuh?

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Selasa, 26 Okt 2021 14:05 WIB
Eks Gurandil Banting Setir Jadi Peternak
Foto: Dikhy Sasra/detikcom
Jakarta -

Peternakan ayam modern kini banyak yang menggunakan sistem kandang tertutup guna menjamin keamanan ternak secara biologis. Selain memiliki banyak keunggulan, peternakan dengan sistem close house itu juga dinilai ramah terhadap lingkungan.

Seperti halnya yang terlihat di Kampung Gunung Dahu, Desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Kelompok Bakti Tani mengembangkan peternakan ayam ramah lingkungan dengan sistem close house di lahan pribadi seluas 72x10 meter sejak 2019.

Menurut Pemilik Peternakan Ayam Pedaging (Broiler) Acang, kandang close house itu ramah lingkungan karena nggak berbau, sehingga peternakan tersebut tidak mengganggu area lingkungan warga sekitar. Hal ini juga sekaligus menyiasati peternakan di wilayah Kabupaten Bogor yang beriklim tropis.

"Paling penting kandang juga jadi nggak bau, karena tanah nya tetap kering, dan juga ada ventilasi udara yang keluar masuk. Makanya kandang ini jadi ramah lingkungan," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Acang menjelaskan berternak menggunakan cara close house juga ada beberapa keuntungan yang dirasakannya yakni kepadatan ayam lebih efisien. Selain itu, kondisi pertumbuhan bobot ayam merata dan angka kematian terhadap ayam juga rendah karena suhu ruang yang dapat dikontrol.

Pasalnya, dia menilai kandang tertutup bisa membuat produksi ayam lebih maksimal, karena ayam menjadi tidak mudah stres. Berbeda dengan kandang sistem terbuka, ayam kerap dipengaruhi oleh kondisi di luar kandang.

"Jadi kandang ini bisa menjamin keamanan ayam. Karena dengan adanya pengaturan ventilasi udara yang baik di dalam kandang maka itu dapat mengurangi stres pada ternak, jadi ayam bisa tetap nyaman," tuturnya.

Untuk diketahui, kandang close house milik Acang sendiri merupakan hasil dari program Mitra Binaan Antam UBPE Pongkor. Program pengembangan peternakan ayam ini dipilih sebagai dukungan untuk para mantan Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) dalam mendapatkan mata pencaharian alternatif.

Eks Gurandil Banting Setir Jadi PeternakFoto: Dikhy Sasra/detikcom

Kandang close house tersebut terdiri dari dua lantai dengan total ayam kurang lebih sekitar 26-27 ribu ekor dengan masa panennya rata-rata dari 25-35 hari. Hingga saat ini, peternakan ayam broiler miliknya telah melakukan panen sebanyak 15 kali sejak digagas pada 2019. Omzet yang didapat pun cukup menggiurkan.

"Karena (peternakan) ini sistemnya kemitraan ya, jadi (setiap panen) saya terima keuntungan Rp 1.500 per ekor. Jadi rata-rata per periode panen itu dapat Rp 40 juta itu bisa dibilang bersih," tuturnya.

Selain itu, pengembangan peternakan ayam broiler ini juga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi para pemuda di wilayah tersebut melalui kelompok bakti tani yang saat ini beranggotakan 13 orang.

Menariknya lagi, limbah kotoran ayam di kandang close house tersebut dijadikan pupuk kandang untuk pertanian di wilayah Kampung Gunung Dahu. Sehingga hal ini juga turut membantu para kelompok tani yang kesulitan mendapatkan pupuk untuk mengembangkan pertaniannya.

Berkat hal ini pula, Peternakan Ayam Pedaging di Kampung Gunung Dahu itu mendapatkan penghargaan Indonesia Sustainable Development Goals Award (ISDA) 2021 dari Corporate Forum for CSR Development. Penghargaan ini diberikan karena peternakan tersebut mampu mengukir manfaat yang berkelanjutan.

detikcom bersama MIND ID mengadakan program Jelajah Tambang berisi ekspedisi ke daerah pertambangan Indonesia. detikcom menyambangi kota-kota industri tambang di Indonesia untuk memotret secara lengkap bagaimana kehidupan masyarakat dan daerah penghasil mineral serta bagaimana pengolahannya. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/jelajahtambang

(akd/hns)