IFC Baru Bisa Bantu Restrukturisasi Tekstil 2007

IFC Baru Bisa Bantu Restrukturisasi Tekstil 2007

- detikFinance
Kamis, 20 Apr 2006 13:12 WIB
Jakarta - Anak usaha Bank Dunia, International Finance Corporation (IFC) baru bisa membantu restrukturisasi tekstil Indonesia tahun depan. IFC tidak bisa memenuhi permintaan Menteri Perindustrian Fahmi Idris agar melakukan investasi sektor tekstil tahun ini. Pasalnya, IFC telah menyiapkan sejumlah proyek untuk tahun fiskal 2006."Tahun ini nampaknya tidak mungkin, karena kita sudah ada perencanaan untuk tahun ini yang dilakukan pada bulan Mei 2005 lalu, bantuan untuk tahun depan masih bisa karena perencanaan tahun depan dilakukan Mei 2006," kata Communication Manager IFC, Nia Sarinastiti. Hal itu diungkapkan Nia, di sela acara peluncuran kajian suara-suara perempuan pengusaha di Kantor IFC, Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Kamis (20/4/2006).Menurut Sari, untuk rencana tersebut, IFC pada Senin pekan depan (24/4/2006) akan menemui Menperin membahas kelanjutan investasi di sektor tekstil.Mengenai permintaan Menperin agar IFC juga melakukan investasi di proyek baja, Sari menegaskan hal itu tidak mungkn dilakukan. "Karena ini bukan industri prioritas IFC," tukasnya.Industri prioritas itu, ungkap Sari, tergantung assessment industsry yang berdasarkan kajian dari Bank Dunia. "Ciri-ciri investasi yang kita inginkan adalah prudent, tidak asal ekspansi dan mass production," katanya.Sektor prioritas IFC saat ini adalah pertama, financial services industry seperti perbankan dan multifinance company. Kedua, manufacturing yang saat ini bekerja sama dengan PT Astra Otoparts dan Wings Group. Ketiga, industri migas, pertambangan dan sumber daya alam, serta keempat, UKM. Namun untuk UKM bantuan yang diberikan bukan dalam bentuk dana tapi bantuan teknis memperlancar perbankan agar memberikan dana ke UKM.IFC menyiapkan anggaran US$ 275 juta untuk tahun fiskal Juli 2005 sampai Juni 2006. Dana tersebut telah terpakai untuk investasi ke PT Central Pertiwi Bahari yang berlokasi di Lampung. Perusahaan ini bergerak di tambak udang dengan nilai bantuan sebesar US$ 40 juta. Dana digunakan untuk sistem pengolahan limbah dan permesinan dalam rangka peningkatan ekspor.Selain itu pelaksanaan investasi dilakukan untuk share swap saham Bank Buana sebesar US$ 10 juta dan memberikan pinjaman ke perbankan lokal sebesar US$ 150 juta. Sementara untuk investasi tekstil, IFC terakhir melakukannya di PT Indorama Syntetic yang bergerak di serat sintetis sebesar US$ 48 juta. Dananya untuk pembangunan infrastruktur listrik.IFC menargetkan kumulatif investasi selama lima tahun dari 2002 hingga Juni 2007 mencapai US$ 1 miliar. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads