Ditjen Pajak Respons Kabar Miring 'Jebakan Batman' di Tax Amnesty

Siti Fatimah - detikFinance
Minggu, 31 Okt 2021 09:15 WIB
Samadikun Hartono mengembalikan uang tunai Rp 87 miliar. Total yang telah dikembalikan Rp 169 miliar, sesuai perintah Mahkamah Agung (MA).
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Tax amnesty atau pengampunan pajak jilid 2 kini semakin dekat. Pemerintah sendiri telah mengadakan sosialisasi Undang-undang (UU) Harmonisasi Peraturan Pajak (HPP) yang termasuk di dalamnya mengenai tax amnesty dengan masa berlaku 1 Januari-30 Juni 2022.

Di tengah hal itu, muncul kekhawatiran bahwa kebijakan tersebut hanya jebakan pemerintah. Rendahnya partisipasi wajib pajak yang ikut tax amnesty jilid I karena ada kekhawatiran bahwa program tersebut merupakan jebakan dari pemerintah.

Hal itu dikemukakan Wakil Ketua Umum Bidang Kebijakan Fiskal dan Publik Kadin Indonesia, Suryadi Sasmita.

"Jadi waktu itu mereka berpikir kemungkinan dulu jebakan. Maka dari itu, ini adalah kesempatan lah bagi semua teman-teman di Kadin seluruh Indonesia yang saya hormati. Tentu kasih tahu sama semua para pengusaha di seluruh Indonesia bahwa ini adalah satu kesempatan," jelas Suryadi dalam sosialisasi Undang-undang HPP oleh Kadin, Jumat (29/10/2021) lalu.

Merespon hal tersebut, Direktur Peraturan Perpajakan I, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Hestu Yoga Saksama mengatakan, program pengampunan pajak bukanlah 'jebakan batman'.

"Kalau 'jebakan batman', rasanya isu ini pernah muncul kencang sekali Pak Suryadi kalau ingat. Tetapi sebenarnya nggak pernah ada isu jebakan batman," kata Hestu dalam acara yang sama.

Dia menjelaskan ketentuan dan tata cara mengenai Tax Amnesty sudah tercantum dalam UU. Menurutnya, pemeriksaan hanya akan dilakukan jika Ditjen Pajak menemukan aset lain yang tidak terdaftar.

"Tapi mungkin ada kewajiban perpajakan atau mungkin tadi ikut tax amnesty asetnya 10 unit tapi baru lapor 8, kebetulan teman-teman pajak ketemu yang 2 ya mau nggak mau itu diperiksa, tetapi sebenarnya nggak pernah ada isu jebakan batman," jelasnya.

Hestu juga menceritakan pengalamannya saat tax amnesty tahun 2016-2017. Saat itu, kata dia, ada sekitar hampir 1 juta yang menjadi peserta wajib pajak dan ada segelintir yang diperiksa. Namun itu pun berdasarkan sebab akibat.

"Hampir 1 juta mungkin ada 1-2 yang diperiksa tapi itu pun pasti ada triggernya bukan dalam konteks sudah masuk kemudian diperiksa, kan enggak sama sekali," ujarnya.



Simak Video "Ekonom soal Tax Amnesty Jilid II: Banyak Mudaratnya "
[Gambas:Video 20detik]