Pemerintah Jangan Buru-buru Percepat Bayar Utang
Kamis, 20 Apr 2006 15:06 WIB
Jakarta -
Pemerintah diharapkan tidak terburu-buru mempercepat pembayaran utang asing walaupun cadangan devisa cukup tinggi saat ini. Pasalnya peningkatan devisa yang sangat signifikan beberapa bulan terakhir merupakan uang panas yang setiap saat bisa hengkang."Saya setuju dengan ide pengurangan utang tapi uang itu datangnya dari hot money yang mudah pindah. Kalau itu hot money lebih baik jangan dulu pikirkan itu (percepatan pembayaran utang)," kata ekonom Bank Mandiri Martin Panggabean, usai paparan Quarterly Economic Outlook 2006 di Plaza Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jakarta (20/4/2006).Cadangan devisa Indonesia hingga akhir Maret 2006 telah mencapai US$ 41,5 miliar. Cadangan devisa ini meningkat sekitar US$ 6,5 miliar hanya dalam dua bulan.Martin menjelaskan, aliran dana asing tersebut diserap di Surat Utang Negara (SUN) sebesar 60-70 persen dan sisanya di pasar saham. Dibandingkan negara lainnya di Asia rentang bunga SUN jauh lebih tinggi, yang menjadi daya tarik investor.Mengenai rencana masuknya dana pensiun Amerika, The California Public Employees Retirement System (Calpers), yang mendorong sentimen positif dan mendongkrak indeks saham belakangan ini, Martin justru menilai peningkatan tersebut sangat volatil dan over value."Kebiasaan Calpers sudah jelas, segala masalah diperhitungkan, sentimennya juga bagus tapi masalahnya mereka tidak selalu benar," ujarnya.Menurut Martin, pemain lokal-lah yang lebih berperan dalam penguatan indeks. Karena pemain lokal berekspektasi Calpers akan masuk dan membeli pada harga berapa pun."Menurut saya mereka baru akan masuk tapi tunggu harga turun. Mereka kan berpikir untung juga," tukasnyaPada transaksi saham Kamis pukul 14.04 waktu JATS, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hampir mendekati level 1.500 yakni berada di level 1.490,352.
(ir/)










































