Nelayan Sikka Ekspor Perdana 15 Ton Ikan Tuna ke Malaysia dan Jepang

Yudistira Imandiar - detikFinance
Minggu, 31 Okt 2021 10:33 WIB
BNI Gandeng fishOn Dorong Ekspor Perikanan Maumere
Foto: Dok. BNI
Jakarta -

Nelayan Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur mengekspor produk tuna sashimi dan katsuobushi skipjack ke Malaysia dan Jepang untuk kali pertama. Ekspor produk dari nelayan Sikka difasilitasi startup fishOn dan PT Samudera Emas Anugerah sebagai agregator.

Pelepasan ekspor perdana ke Malaysia dan Jepang ini dilakukan di fishOn Cloud Factory (Ex-KCBS) di Desa Wailiti, Sikka, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, (30/10).

"Acara pelepasan ekspor perdana ikan tuna sebanyak 15 ton ke Malaysia dan Jepang merupakan tanda bahwa UKM sektor kelautan dan perikanan bisa menjadi pengungkit ekonomi sekaligus peluang di masa pandemi," kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dikutip dalam keterangan tertulis, Minggu (31/10/2021).

Teten mengatakan sektor perikanan merupakan potensi ekspor yang sangat besar karena permintaan pasar internasional terhadap hasil perikanan sangat tinggi. Untuk ekspor komoditas ikan tuna, cakalang dan tongkol telah mencapai US$ 334,7 juta atau menyumbang 12,9% total ekspor.

Untuk itu, Teten mengapresiasi PT Daya Gagas Indonesia melalui aplikasi fishOn yang memberikan bantuan terhadap permasalahan perikanan yang dihadapi nelayan, juga PT Samudera Emas Anugerah yang bertindak sebagai aggregator.

Ekosistem fishOn yang telah dibangun merupakan implementasi pembinaan UMKM dari hulu ke hilir. Nelayan memperoleh pendampingan teknis, pembiayaan serta kepastian pasar. fishOn, sebagai startup aplikasi perikanan tangkap, masuk ke Kabupaten Sikka dan mulai melakukan pembinaan untuk nelayan tuna dan cakalang. Di Kabupaten Sikka, fishOn juga mengoperasikan factory sharing yang disebut fishOn Cloud Factory, hasil kerja sama dengan KCBS, perusahaan perikanan PMA dari Jepang.

"Kami hadir ke Kabupaten Sikka dan melepas ekspor perdana UKM nelayan binaan fishOn ini bertujuan untuk memastikan program agregasi UKM untuk peningkatan ekspor ini betul-betul dapat berjalan sesuai dengan arahan Menteri Koperasi dan UKM. UKM nelayan harus kita berikan karpet merah, mulai dari pembiayaan operasional melaut hingga menghubungkan dengan market ekspor," timpal Deputi UKM Kementerian Koperasi dan UKM Hanung Harimba

CEO fishOn Fajar Widisasono mengatakan fishOn Cloud Factory merupakan inovasi layanan baru dari fishOn untuk pebisnis ikan di dalam dan luar negeri, mereka tidak perlu menghabiskan biaya investasi untuk membangun pabrik dan membina nelayan.

Saat ini, kata dia, pembeli dari Jakarta dan Surabaya sudah mulai bergabung dengan layanan fishOn Cloud Factory, seperti CV Sumaco Inti Samudera dan PT Samudera Emas Anugerah. Pembeli dari Jepang, Malaysia, Tiongkok dan bahkan dari salah satu retail ikan modern di London, Inggris sudah mulai penjajakan untuk melakukan transaksi pembelian ikan langsung di Maumere.

Salah seorang nelayan dari Desa Nangahure Lembah, Engga Diaz (53), menyatakan kerja sama fishOn dapat mengangkat harga di tingkat nelayan dan menjaga kestabilan harga.

"Sebelum fishOn ada, kami sering dikecewakan oleh petugas penerima di pabrik, selain timbangan yang selalu dibulatkan ke bawah, penentuan kualitas ikan pun selalu merugikan kami, kualitas A dibilang B, itu sudah biasa. Setelah fishOn hadir, kualitas tangkapan kami selalu dapat penilaian tinggi dan timbangan dihitung sampai ke angka koma di belakang. Juga harga tidak naik turun setiap hari seperti dulu dan yang paling penting pembayarannya pun langsung lunas dan tidak dihutang" ungkap Engga Diaz.

Saat ini, ada 184 nelayan Tuna dan Cakalang yang merasakan manfaat fishOn. Mereka mendapatkan permodalan Rp 5-7 juta per nelayan hasil kerja sama dengan KUR Bank BNI.

(akd/hns)