ADVERTISEMENT

Peter Gontha Soal Sewa Pesawat Garuda Kemahalan: Saya Dipaksa Tandatangan

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 03 Nov 2021 10:59 WIB
Duta Besar RI untuk Polandi Peter F Gontha
Foto: Hary Lukita Wardhani/detikcom
Jakarta -

Eks Komisaris PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Peter Gontha menjawab tentang keterlibatannya dalam pembiayaan sewa pesawat yang kemahalan saat masih menjabat. Hal itu sebelumnya dikatakan oleh Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga.

Dalam sebuah foto pesawat Garuda Indonesia yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Peter Gontha mengatakan bahwa dirinya sempat menolak permintaan tanda tangan kontrak pembelian pesawat Garuda Indonesia.

"Ini pesawat Boeing 737 Max yang ditandatangani Direksi/Komisaris Garuda pada tahun 2013/2014. Saya diminta untuk menandatanganinya, tapi saya menolak," tulis akun @petergontha dikutip detikcom, Rabu (3/11/2021).

Peter Gontha pun menuliskan alasan di balik penolakannya tersebut. Hal itu dikarenakan waktu yang diberikan untuk melakukan evaluasi atas kontrak tersebut hanya 24 jam, padahal nilai kontraknya sangat besar sehingga perlu evaluasi lebih lama dan menyeluruh.

"Kita hanya diberi 1x24 jam untuk evaluasi dan menandatanganinya. Total kontraknya melebihi US$ 3 miliar untuk 50 pesawat. Gila kan, hanya 24 jam," tuturnya.

Dengan mengaku dipaksa, Peter Gontha pun akhirnya menandatangani kontrak tersebut dengan catatan. Jika tidak, katanya akan menjadi dissenting atau kegagalan pembelian pesawat.

"Karena dipaksa dengan alasan saya harus ttd, kalau tidak menjadi (dissenting) "gagal" pembeliannya. Saya akhirnya tandatangani juga tapi dengan catatan bahwa kita tidak diberi cukup waktu untuk evaluasi dan saya pun dikucilkan oleh "direksi waktu itu". Saksi hidup masih banyak. Tanyakan saja! Juga jejak digitalnya saya ada!" ujarnya.

Meski begitu, Peter Gontha bersyukur Boeing 737 Max yang dikirim ke Garuda Indonesia hanya satu dari 50 pesawat di dalam kontrak. Hal itu lantaran pesawat tersebut terindikasi gagal desain dan jatuh seperti kasus yang menimpa Lion Air dan Ethiopia Air.


"Tidak dikerjakan karena alasan kontrak tersebut tidak bisa dibatalkan apapun alasannya. Saya minta dituntut di pengadilan Amerika Serikat dan minta uang perusahaan dikembalikan, tapi tidak dilaksanakan padahal Boeing sudah terkendala korupsi," tutur Peter.

Atas kejadian tersebut, Peter Gontha selaku Komisaris Garuda kala itu meminta direksi membatalkan perjanjian atau kontrak yang sudah dibuat. Dia juga meminta agar direksi mengembalikan pesawat yang sudah dikirim ke Garuda Indonesia, namun permintaannya itu tidak ada yang dikerjakan.

Pada akhir tulisan, Peter Gontha menyebut akan menceritakan kejadian tersebut kepada Menteri BUMN Erick Thohir. "Cerita ini MenBUMN mungkin tidak diinformasikan. Ini harus saya kasih tahu karena kalau tidak, Pak Erick yang disalahkan!" tutupnya.



Simak Video "Momen Erick Thohir Usulkan Komisaris Garuda Cukup 2 Saja"
[Gambas:Video 20detik]
(aid/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT