Minyak Dunia Tembus US$ 75/barel
Sabtu, 22 Apr 2006 15:22 WIB
Jakarta - Harga minyak dunia akhirnya tembus ke rekor baru di level US$ 75 per barel pada perdagangan Jumat di pasar AS. Pelaku pasar kian khawatir terhadap proyek nuklir Iran dan makin ketatnya persediaan BBM di AS.Harga BBM di AS ikut meroket dengan harga rata-rata BBM regular US$ 2,855 per galon atau naik 3 sen dolar AS dari perdagangan awal Jumat waktu AS (21/4/2006). Harga BBM ini lebih tinggi 60 sen dolar AS dibanding tahun lalu.Sementara harga minyak dunia saat ini telah naik 40 persen dibanding tahun lalu atau naik 8,4 persen sejak penutupan perdagangan Kamis (20/4/2006). Ini merupakan kenaikan harga tertinggi dalam sepekan sejak 17 Juni 2005. Kala itu kenaikan minyak selama sepekan mencapai 9 persen.Analis minyak mengamini kenaikan harga yang meroket pada pekan ini karena kekhawatiran pasar terhadap tekanan internasional yang menolak program pengayaan nuklir Iran. Tekanan internasional tersebut diduga akan berdampak pada produksi minyak Iran yang merupakan produsen minyak kedua terbesar dalam keanggotaan OPEC.Selain itu masih gentingnya situasi politik di Nigeria membuat pasar minyak dunia makin kelabakan. Nigeria merupakan pengimpor minyak nomor lima terbesar untuk AS."Kondisi yang tidak terkontrol ini telah membuat pedagang minyak dan spekulan memanfaatkan situasi ini," kata Fadel Gheit, analis minyak dari Oppenheimer & Co seperti seperti dikutip AP, Sabtu (22/4/2006).Pada penutupan perdagangan Jumat di New York Mercantile Exchange (Nymex), harga minyak mentah jenis light untuk pengiriman bulan Juni naik US$ 1,48 per barel dan menembus rekor baru US$ 75,17 per barel. Sepanjang perdagangan kemarin harga minyak sempat menyentuh puncaknya di level US$ 75,35 per barel. Sementara harga minyak untuk kontrak bulan Mei pada perdagangan Kamis masih berada di level US$ 71,95 per barel. Namun harga minyak saat ini masih 20 persen dibawah rekor yang terjadi tahun 1981, ketika suplai minyak begitu ketatnya pasca revolusi Iran dan perang Irak-Iran.Pelaku pasar juga khawatir terhadap persediaan minyak AS yang kemungkinan tidak bisa mencukupi hingga musim panas. Ini setelah dalam tujuh pekan terakhir persediaan BBM negeri Paman Sam itu anjlok, yang merupakan stok terendah sejak November tahun lalu. "Ada banyak masyarakat yang terganggu pada pekan ini karena masalah jumlah energi ini," kata Phil Flynn, pialang minyak dari Alaron Trading Corp. "Mereka melihat begitu banyak kombinasi isu dari mulai geopolitik hingga masalah kilang," tambah Flynn.Sejumlah kilang minyak di AS hingga kini masih terus melakukan perbaikan besar-besaran, setelah terjadi kerusakan yang parah akibat bencana angin topan di Teluk Meksiko pada tahun lalu.
(ir/)











































