Drama PCR: Awalnya Diwajibkan Hingga Dugaan Pemain Besar

Siti Fatimah - detikFinance
Senin, 15 Nov 2021 06:12 WIB
Presiden Joko Widodo meminta penurunan harga tes PCR menjadi Rp 300 ribu. Kemenkes menyatakan akan mengecek terlebih dahulu dan melakukan perhitungan.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Polemik tes Polymerase Chain Reaction (PCR) di Tanah Air sempat menjadi topik perbincangan. Berawal dari munculnya kritikan publik terhadap persyaratan penerbangan Jawa-Bali di masa PPKM, sebelum aturannya diubah hingga adanya dugaan pemain besar di balik praktik bisnis PCR.

Kegiatan bisnis PCR pun dibongkar oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Direktur Ekonomi KPPU, Mulyawan Ranamanggala mengatakan, memang ada beberapa pihak yang memanfaatkan kebijakan PCR demi meraup keuntungan.

"Kami melihat ini ada indikasi memaksimumkan keuntungan ketika tadi ada bundling PCR. Ketika ada tes PCR yang di-bundling dengan jasa konsultasi dengan dokter misalnya. Dia (tarif PCR) akan melambung harganya jadi dua kali lipat," ungkap Mulyawan dalam sebuah forum jurnalis virtual, dikutip Minggu (14/11/2021).

Pihaknya juga mengendus adanya kelompok tertentu dari pelaku usaha laboratorium PCR. Kelompok ini juga sama-sama berpotensi melakukan upaya persaingan yang tidak sehat di bisnis PCR.

Mulyawan sempat dikonfirmasi dengan nama-nama 'pemain besar' dari bisnis PCR ini seperti GSI, Bumame hingga Intibio. Namun Mulyawan tidak bicara banyak dan menuturkan masih mendalami seberapa besar kekuatan kelompok ini dalam bisnis PCR di dalam negeri.

"Mengenai data kelompok pelaku usaha besar yang banyak beredar, mungkin saya bisa jawab sebagian mungkin benar. Tapi kami masih akan verifikasi dari informasi beredar, kami masih pendalaman," kata dia.

"Kami indikasikan bahwa ada beberapa kelompok usaha dalam pelaku usaha laboratorium. Kami sedang dalami bagaimana kekuatan kelompok usaha ini dalam pangsa pasarnya di bisnis tes PCR yang dilakukan selama ini," sambungnya.

Halaman selanjutnya buka-bukaan harga.