ADVERTISEMENT

Buset! Produsen Vaksin COVID-19 Ini Cuan Rp 14,2 Juta Tiap Detik

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 17 Nov 2021 16:26 WIB
Scientists are done research on vaccine in laboratory with test tubes on Covid19 Coronavirus type for discover vaccine.
Foto: Getty Images/iStockphoto/chayakorn lotongkum
Jakarta -

Tiga produsen vaksin COVID-19 dikabarkan menghasilkan keuntungan gabungan sebesar US$ 65.000 atau setara Rp 924,95 juta (kurs Rp 14.230) setiap menit. Mereka adalah Pfizer, BioNTech dan Moderna.

Dilansir dari AFP, Rabu (17/11/2021), ketiga produsen vaksin tersebut diperkirakan akan menghasilkan laba sebelum pajak sebesar US$ 34 miliar (Rp 483,82 triliun) tahun ini. Itu artinya mereka mendapatkan lebih dari US$ 1.000 (Rp 14,2 juta) per detik, US$ 65.000 per menit, atau US$ 93,5 juta (Rp 1,33 triliun) per hari.

Hal itu berdasarkan laporan Aliansi Vaksin Rakyat (PVA), koalisi yang mengkampanyekan akses vaksin COVID-19 yang lebih luas. Ketiga produsen vaksin tersebut dianggap hanya menjual sebagian besar dosis ke negara kaya dan membiarkan negara berpenghasilan rendah kesulitan mendapatkan vaksin.

"Sungguh aib bahwa hanya beberapa perusahaan yang menghasilkan keuntungan jutaan dolar setiap jam. Sementara hanya 2% orang di negara-negara berpenghasilan rendah yang telah sepenuhnya divaksinasi COVID-19," kata Maaza Seyoum dari Aliansi Afrika dan Aliansi Vaksin Rakyat Afrika.

"Pfizer, BioNTech, dan Moderna telah menggunakan monopoli mereka untuk memprioritaskan kontrak yang paling menguntungkan dengan pemerintah terkaya, membuat negara-negara berpenghasilan rendah berada dalam bahaya," tambahnya.

Menurut PVA, Pfizer dan BioNTech hanya mengirimkan kurang dari 1% total pasokan mereka ke negara-negara berpenghasilan rendah. Sementara Moderna lebih rendah lagi yakni cuma mengirimkan 0,2%.

"Saat ini, 98% orang di negara berpenghasilan rendah belum sepenuhnya divaksinasi," bebernya.

Tindakan ketiga perusahaan tersebut dinilai berbeda dengan AstraZeneca dan Johnson & Johnson, yang menyediakan vaksin mereka secara nirlaba. Meskipun keduanya sudah mengumumkan akan mengakhiri penyediaan secara nirlaba di masa depan saat pandemi mereda.

Meskipun Pfizer, BioNTech dan Moderna telah menerima dana publik lebih dari US$ 8 miliar, PVA menyebut ketiganya menolak panggilan untuk mentransfer teknologi vaksin ke produsen di negara berpenghasilan rendah dan menengah melalui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Padahal langkah itu dapat meningkatkan pasokan global, menurunkan harga dan menyelamatkan jutaan nyawa.

PVA yang memiliki 80 anggota termasuk Aliansi Afrika, Global Justice Now, Oxfam, dan UNAIDS, menyerukan perusahaan farmasi untuk segera menangguhkan hak kekayaan intelektual untuk vaksin COVID-19. Mereka diminta menyetujui usulan pengabaian perjanjian TRIPS Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Lebih dari 100 negara, termasuk Amerika Serikat (AS), mendukung langkah itu. Tetapi negara-negara kaya termasuk Inggris dan Jerman memblokir langkah tersebut.

(aid/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT