Alami Digital Gap, Pelaku Ekraf Indonesia Baru 20,45% yang Go Digital

Erika Dyah - detikFinance
Kamis, 18 Nov 2021 22:40 WIB
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno mengunjungi Desa Wisata Arborek, Raja Ampat, Papua Barat, Rabu (27/10/2021). Mas Mentri datang dalam agenda Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) di Kampung Arborek.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM Bidang Pemberdayaan Ekraf, Fiki Satari mengatakan ekonomi kreatif merupakan sektor ekonomi unggulan. Menurutnya, ekonomi kreatif akan menjadi lokomotif penggerak bagi usaha lainnya termasuk UMKM.

"Dalam ekonomi kreatif kita mengenal ada 17 subsektor industri kreatif dan empat basis pengembangan ekonomi kreatif, inovasi, seni budaya, teknologi, dan media. 17 sub sektor yang mengemuka masih di sektor kuliner, yakni 41 persen," ujar Fiki dalam keterangan tertulis, Kamis (18/11/2021).

Dalam Dialog Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) - KPCPEN bertema 'Tumbuhkan Optimisme Lewat Ekonomi Kreatif', Fiki mengungkap di tahun 2020 sektor ekonomi kreatif menyumbang PDB hingga Rp 1.100 triliun dan menyerap 17 juta tenaga kerja.

Namun, masih ada isu dalam sektor ini yakni terkait digital gap. Menurutnya, jumlah pelaku ekonomi kreatif yang beroperasi secara digital masih rendah, sekitar 20,45%.

"Kunci dalam kondisi yang penuh tantangan ini adalah inovasi, mendorong produk dengan kreativitas, model bisnis yang tepat, adaptif, dan bertransformasi terkait digitalisasi dan teknologi," katanya.

Fiki pun menilai kolaborasi bisa menjadi kunci pemulihan ekonomi nasional. Menurutnya, program pemulihan ekonomi ini bukan menjadi tugas Kementerian Koperasi dan UKM saja, tapi juga lintas Kementerian, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Salah satunya, yang sudah dilakukan dalam Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia yang bisa menstimulasi dan memobilisasi keberpihakan konsumen Indonesia yang jumlahnya amat besar.

Menurutnya, melalui kolaborasi, berbagai pihak bisa mengoptimalkan pasar lokal. Bahkan, data mencatat ada 3,1 juta transaksi per hari dan ada kenaikan 35 persen pengiriman barang dalam Gerakan Nasional BBI.

"Ini sangat signifikan," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, CEO Chatbiz Terry Djony yang merupakan bagian dari ekonomi kreatif mengatakan saat pandemi pihaknya melakukan pelatihan sebab banyak usaha, terutama mikro, yang biasa berjualan offline tapi karena pandemi harus jualan online. Untuk itu, pelatihan dilakukan salah satunya mengenai cara menggunakan sosial media dan membuat foto produk dengan baik

"Siapa saja bisa bergabung dengan Chatbiz. Saat ini yang sudah bergabung ratusan seller atau penjual, transaksi yang terjadi bernilai miliaran rupiah per bulan, ada pun pembeli sudah puluhan ribu," terangnya.

Adapun Bendahara Perhumas (Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia), Herry Kurniawan menilai sebagai praktisi komunikasi, banyak tantangan yang dihadapi selama pandemi. Selain makin beredarnya hoaks di tengah masyarakat, narasi pesimisme pun sering dimunculkan.

"Hal ini jadi tugas kami, praktisi komunikasi bagaimana membantu pemerintah, memberi kontribusi terbaik untuk bisa mengatasi masalah sosial ini," pungkasnya.



Simak Video "Per 22 Oktober 2021, Realisasi PEN Sudah Capai 58,3 Persen"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)