Belum Banyak Diterapkan, Apa Untungnya Pertanian Organik Bagi Petani?

Siti Fatimah - detikFinance
Kamis, 25 Nov 2021 14:45 WIB
Petani menanam padi di persawahan desa Klambu, Grobogan, Jawa  Tengah, Senin (23/11/2020). Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan produksi padi tahun 2021 akan mencapai 63,50 juta ton dan itu lebih tinggi dari target produksi 2020 yang mencapai 59,15 juta ton. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/hp.
Foto: ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO
Jakarta -

Pertanian organik yang sudah lama dikenal di Indonesia dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan menghasilkan pangan yang lebih sehat. Sayangnya, kini pertanian organik belum banyak diterapkan petani yang terlanjur lebih akrab dengan sarana input pertanian sintetis

"Penggunaan pertanian organik berpotensi menghemat biaya usaha tani karena bahan-bahan yang digunakan berasal dari nutrisi tanaman. Selain itu, pengendalian hama penyakit secara organik juga dapat menghemat biaya perlindungan hingga 50 persen," terang Ketua Asosiasi Bioagroinput Indonesia Gunawan Sutio dalam Webinar bertajuk "Kiat Menjadi Organik Enterpreneur" pada dikutip Kamis (25/11/2021).

Gunawan menyebut, tidak ada perbedaan yang signifikan antara pertanian konvensional dengan pertanian organik. Sebagaimana pertanian konvensional, komponen utama pertanian organik adalah sumber nutrisi tanaman dan pengendalian hama penyakit. Yang membedakan hanya nutrisinya saja. Tetapi unsurnya tetap sama.

Misalnya saja komponen sintetis pada sumber hara makro primer, seperti Nitrogen, Fosfat dan Kalsium. Tidak hanya itu, limbah pertanian yang mengandung ketiga komponen ini yang organik terdapat pada kompos hijauan, kompos limbah rumah tangga, kompos kotoran ternak unggas dan ruminansia, fermentasi urin ternak dengan bakteri nitritasi dan nitrasasi, limbah sisa tanaman, dan abu bakaran janjangan sawit.

Sementara itu komponen sintetis pada sumber hara makro sekunder mencakup Kalsium, Magnesium dan Sulfur. Ketiganya terdapat secara alami pada kapur, dolomit, gypsum, guano, garam Epsom (MgSo4), garam kalium magnesium sulfat, dan belerang tambang.

Penggunaan komponen sintetis, misalnya pupuk sintesis yang merupakan pupuk buatan, mendatangkan banyak manfaat untuk kelangsungan hidup tanah, tanaman dan manusia yang mengonsumsi hasil pertanian. Gunawan mendorong perguruan tinggi untuk berperan menjadi lembaga pemberi sertifikasi SNI organik untuk para petani. Hal ini disebutnya akan memudahkan petani untuk memastikan produk hasil pertaniannya sesuai dengan standar SNI organik, mengakses informasi mengenai pertanian organik dan mendorong kampus untuk mengembangkan pertanian serupa.

Walaupun begitu, ia menyebut SNI organik perlu menjelaskan lebih jauh lagi tentang komponen apa saja yang boleh dipakai dan yang tidak boleh dipakai untuk memberikan kepastian pada pengusaha produk pertanian organik.

"Pertanian organik membutuhkan sosialisasi yang lebih luas lagi supaya dipahami dengan lebih baik oleh para petani. Pemahaman yang lebih baik akan mendorong terbukanya potensi sektor pertanian nasional menjadi lebih optimal" tambahnya.

Lanjutkan membaca -->



Simak Video "Jokowi Minta Papua Barat Jadi Produsen Pertanian Pertama di Indonesia Timur"
[Gambas:Video 20detik]