Daya Saing Cina Mulai Melemah
Rabu, 26 Apr 2006 18:04 WIB
Jakarta - Daya saing produk negara Tiongkok atau Cina diketahui mulai melemah, karena Cina sedang mengalami kendala kurangnya sumber daya manusia (SDM) terampil yang murah.Selain itu masalah lingkungan, perlindungan hak cipta, terbatasnya bahan baku dan harga minyak mentah yang terus melambung ikut menyusahkan Cina.Sementara masih murahnya produk Cina diduga karena adanya subsidi terselubung yang diberikan pemerintahannya, sedangkan Indonesia tidak pernah melakukan hal itu.Demikian disampaikan Ketua Komite Tiongkok Adi Harsono di seminar How to live with the Dragon', dengan tema 'Challenge & Opportunity China Product in the Indonesia Manufacturer' di Gedung Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Jakarta (26/4/2006)."Selain itu beberapa produk mereka terkena bea masuk anti dumping di Eropa dan Amerika, lalu Tiongkok menjaring pasar lain sehingga produknya membanjir diseluruh dunia. Hal ini sudah diprediksi," jelas Adi yang juga suami Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.Adi menjelaskan, kedua kepala negara Tiongkok dan Indonesia sudah bertekad untuk meningkatkan nilai perdagangan dari tahun lalu yang mencapai US$ 15 miliar menjadi US$ 20 miliar pada 2010 dan mengarah ke US$ 30 miliar. Tiongkok selalu mengatakan tidak keberatan surplus di Indonesia seperti halnya yang terjadi pada tahun sebelumnya."Tapi yang terjadi tahun ini mengagetkan, karena surplusnya berada disana akibat membanjirnya produk murah mereka ke Indonesia," kata Adi yang mengaku lebih suka menyebut Tiongkok ketimbang Cina.Untuk itu, Kadin akan membantu pemerintah menegosiasikan dengan data yang akurat agar mempermudah akses pasar ke Tiongkok, dengan meminta mereka tidak menerapkan tarif untuk produk Indonesia.Adi juga berjanji akan meyakinkan pihak Tiongkok bahwa iklim investasi di Indonesia sudah kondusif agar investor Negeri Tirai Bambu itu mau mengalihkan investasinya."Cina suatu saat harus memindahkan sebagian fasilitas manufacturing-nya ke Indonesia karena nantinya produknya tidak akan bersaing dengan jauhnya jarak. Setelah itu mereka mengekspor produknya dari Indonesia," jelas Adi.
(ir/)











































