Jokowi Beberkan Kondisi Mengerikan yang Dihadapi Dunia

Siti Fatimah - detikFinance
Sabtu, 27 Nov 2021 19:35 WIB
Presiden Jokowi (Foto: Lukas - Biro Pers Sekretariat Presiden)
Foto: Presiden Jokowi (Foto: Lukas - Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan dampak pandemi COVID-19 yang terjadi dan belum pernah diperkirakan sebelumnya. Hal itu terjadi di negara-negara dunia, dan bisa berimbas ke tanah air.

"Banyak negara mengalami kelangkaan energi yang sebelumnya tidak kita duga. Banyak negara mengalami kelangkaan kontainer sehingga distribusi barang jadi terganggu juga banyak negara mengalami inflasi," kata Jokowi dalam Rapat Koordinasi Nasional dan Anugerah Layanan Investasi 2021, Rabu (24/11) lalu dikutip Sabtu (27/11/2021).

"Ini yang menakutkan semua negara dan akhir-akhir ini banyak negara mengalami kenaikan harga produsen yang nanti dikhawatirkan akan berimbas karena harga di produsennya naik, nanti harga di konsumen juga akan ikut naik. Dampak-dampak pandemi seperti itu yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya, belum yang namanya tapering off," sambungnya.

Tak cukup sampai di situ, Jokowi juga mengungkapkan pembahasan mengenai defisit di dunia juga mengkhawatirkan. Hal itu terjadi saat negara di dunia berupaya untuk menekan defisit anggarannya kembali ke level normal.

"Defisit semua defisit. Kemarin urusan defisit ini semua negara juga mengkhawatirkan. Nanti kalau defisit ini dikembalikan ke normal, berarti bakal terjadi syok lagi. Jadi ini pandemi dampaknya betul-betul kemana-mana, ke semua titik ada," ujarnya.

Untuk mengurangi defisit, belanja negara pun akan ikut direm. Akan tetapi akan berdampak memberikan kejut yang belum diperhitungkan sebelumnya.

"Bareng-bareng bayangkan puluhan ribu triliun direm bareng-bareng karena ingin kembali ke defisit yang normal. Ini juga menakutkan tetapi belum ada kalkulasinya," tuturnya.

Oleh sebab itu, Jokowi menegaskan percepatan pemulihan ekonomi bukan hanya pengendalian COVID-19 yang terkendali tetapi juga ada hal lain di luar mengandalkan APBN. Menurutnya, perlu penopang lain yang bisa mendorong hal tersebut.

"Jadi investasi menjadi jangkar pemulihan ekonomi karena kita kalau terlalu berfokus pada APBN defisit kita ini, meskipun saya tahu Bu Menkeu ini sangat prudent, sangat hati-hati dalam mengelola APBN kita. Oleh sebab itu yang di luar APBN harus digerakkan kembali lagi investasi," tandasnya.

(hns/hns)