Minyak Goreng Mahal, Pedagang: Kebunnya Ada di RI, Tolong Lah Pemerintah

ADVERTISEMENT

Minyak Goreng Mahal, Pedagang: Kebunnya Ada di RI, Tolong Lah Pemerintah

Siti Fatimah - detikFinance
Selasa, 30 Nov 2021 13:02 WIB
Meredam Gejolak Harga Minyak Goreng
Foto: detik
Jakarta -

Pedagang pasar melalui Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) mengaku kesulitan dengan fenomena naiknya harga minyak goreng.

Wakil Ketua APPSI Ngadiran mengatakan, saat ini komoditi minyak goreng sudah menjadi dilema bagi rakyat kecil dan pedagang pasar. Dia juga mengkritik pemerintah yang tidak melibatkan pedagang pasar tradisional dalam menyalurkan minyak subsidi.

"Pemerintah harus punya kebijakan (minyak subsidi) disalurkan melalui pedagang-pedagang tradisional, warung-warung tradisional. Tolong janganlah kebijakan hanya diberikan kepada retail, minimarket dan pasar modern. Itu tidak adil," kata Ngadiran kepada detikcom, Selasa (30/11/2021).

Dia mengatakan, dari sekian banyak komoditi bahan sembako yang ada di pasar, harga minyak goreng ini sudah menjadi momok. "Yang lain harganya nggak ngangkat, minyak goreng ini kan luar biasa," tuturnya.

"Saya berharap selaku wakilnya pedagang, mohon dengan hormat kepada pemerintah, ini kan negara kita. Kebonnya ada di bumi Indonesia, tolong kebijakannya jangan hanya mementingkan ekspor," sambungnya.

Dia juga mengatakan, pedagang pasar tak bisa dibiarkan bersaing harga dengan lawannya. Jika pemerintah tidak segera mengambil tindakan, pihaknya akan melakukan aksi unjuk rasa.

"Kalo harga tolong lah, jangan kita dibiarkan di lepas di hutan belantara, jangan. Saya berharap betul, karena ini menjadi inflasi yang sulit nanti kalau memang minyak goreng ini nggak dijaga oleh pemerintah. 'Oh itu terserah'. Ya Kalo terserah siap-siap aja kami demo," tuturnya.

Menurutnya, harga minyak goreng ada yang naik hingga Rp 19 ribu per kilogram dan tentu akan menyulitkan warga jika yang membeli minyak dari kalangan masyarakat pra sejahtera.

"Kalau orang yang duitnya banyak naik berapa kan nggak peduli, kalo rakyat yang biasanya (beli) Rp 11 ribu, botolan Rp 12,5 sekarang jadi Rp 19 ribu, itu kan keterlaluan," kata dia.

(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT