Subsidi BBM Bisa Membengkak Hingga Rp 21,5 Triliun

Subsidi BBM Bisa Membengkak Hingga Rp 21,5 Triliun

- detikFinance
Kamis, 27 Apr 2006 17:33 WIB
Jakarta - Jika harga minyak dunia terus-terusan melonjak dan rata-rata mencapai US$ 72 per barel, subdisi BBM diperkirakan bisa melonjak menjadi Rp 75,839 triliun. Padahal saat ini anggaran subsidi BBM dalam APBN 2006 hanya Rp 54,3 triliun.Artinya, pemerintah harus menyediakan tambahan subsidi sebesar Rp 21,5 triliun. Angka subsidi itu jauh lebih besar daripada utang pemerintah yang harus dibayar kepada Bank Dunia."Angka 21 triliun agak berat juga setelah kita harus pasang subsidi untuk TDL, subsidi pupuk, SLT, dan sekarang kalau mau subsidi lagi, kita harus tambah 21 triliun. Jadi untuk subsidi-subsidi total harus ditambah hampir sekitar 45 triliun," kata Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta dalam jumpa pers di Gedung Bappenas, Jl Taman Surapati, Jakarta, Kamis (27/4/2006).Untuk itu, pembatasan konsumsi BBM perlu diwujudkan sekaligus mendukung upaya konversi sumber daya energi. Adanya krisis energi di tingkat dunia perlu disikapi secara arif, karena bisa berdampak negatif bagi perekonomian Indonesia."Ketergantungan pada BBM yang sangat besar harus segera dikurangi dan dicari solusinya. Dengan tingkat produksi minyak bumi sebesar 500 juta barel per tahun dan cadangan terbukti sebesar 9 miliar barel, maka cadangan minyak akan habis dalam waktu 18 tahun," ujarnya.Saat ini, sektor transportasi merupakan konsumen BBM yang terbesar. Sebesar 88 persen konsumsi BBM dikonsumsi oleh angkutan jalan, dan 66 persen merupakan mobil pribadi dan mobil angkutan barang.Direktur Energi, Telekomunikasi dan Informatika Bappenas Gumilang Hardjakoesoema, dengan harga minyak US$ 75 per barel, harga pokok produksi BBM akan mencapai Rp 7.000 per liter. Sementara saat ini harga BBM dipatok Rp 5.000 per liter."Jadi ada subsidi Rp 2.000, jadi memang cukup besar pertumbuhan konsumsi BBM tiap tahun naik 10 persen, memang kita harus berhati-hati, kita sudah subsidinya besar terutama untuk sektor listrik," ujarnya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads