Deretan Negara yang Kena 'Jebakan' Utang China

Siti Fatimah - detikFinance
Minggu, 05 Des 2021 11:31 WIB
Business woman holding stack of 100 yuan banknotes money. Chinese yuan currency
Foto: iStock
Jakarta -

Beberapa negara masuk dalam jebakan utang China imbas masifnya pembangunan infrastruktur. China melalui Presiden Xi Jinping memiliki ambisi untuk menciptakan hegemoni baru dalam perekonomian dunia lewat jalur daratan melalui 'Sabuk Ekonomi Jalur Sutra Baru' (news Silk Road economic belt) dan jalur lautan 'Jalur Sutra Maritim Abad ke-21' (21st Century Maritime Silk).

Kedua slogan itu masuk dalam satu ide gagasan Xi Jinping yang bernama Sabuk Ekonomi Jalur Sultra Baru atau dikenal juga dengan nama 'One Belt, One Road' (Sabuk Ekonomi Jalur Sultra Baru). Keduanya juga disebutkan dalam dokumen terbuka di sidang pleno ketiga dari Komite Sentral ke-18 Partai Komunis China yang dilaksanakan pada pertengahan November 2013 di Beijing.

Format ide OBOR ini cukup sederhana, pemerintah setempat menyiapkan proyek khususnya di sektor transportasi dan energi. Selanjutnya China akan memberikan pinjaman jangka panjang dengan bunga yang sangat kompetitif.

Akan tetapi beberapa negara ada yang bernasib kurang beruntung. Negara yang mendapatkan pinjaman tidak mampu menjalankan proyek secara tepat, sehingga nasib proyek mangkrak atau utang tidak terbayar dan pemerintah terpaksa menanggung utang besar hingga proyeknya diakuisisi China.

Sebagai contoh, baru-baru ini Uganda dikabarkan menjadi salah satu negara yang tersandung jebakan utang China. Negara bagian Afrika Timur itu harus kehilangan Bandara Internasional Entebbe karena tidak mampu membayar utang.

Namun, Uganda juga dilaporkan tengah berusaha untuk mengubah perjanjiannya dengan China. Perjanjian pinjaman US$ 207 juta itu ditandatangani pada tahun 2015 dengan Bank Export-Impor (EXIM) China.

Pinjaman itu untuk mendanai perluasan bandara dengan beberapa klausul yang kontroversial. Salah satu klausulnya yaitu pemberi pinjaman dapat mengambil kepemilikan fasilitas jika terjadi gagal bayar utang (default).

Berdasarkan laporan Bloomberg pada Kamis (2/12) lalu dikutip Minggu (5/12/2021) Jaksa Agung Uganda Kiryowa Kiwanuka mengatakan, tidak perlu melakukan klausul ulang karena negara mampu memenuhi kewajiban membayar utang.

"Kontrak dalam pandangan kami buruk ketika Anda mengeluarkan kewajiban yang tidak mungkin dilakukan. Kewajiban dalam kontrak ini adalah mampu dikerjakan," kata Kiwanuka dalam situs web Parlemen Uganda.

Sebelumnya Uganda juga sudah mencoba bernegosiasi sejak Maret 2021 namun sejauh ini belum berhasil. Kiwanuka mengatakan, pinjaman itu sendiri memiliki tenor 20 tahun dengan masa tenggang tujuh tahun yang berakhir pada April 2022 mendatang.

Uganda bukanlah satu-satunya negara yang terjerat utang dari China. Beberapa negara lain di dunia juga sempat bernasib sama sehingga menerima konsekuensi seperti klausul yang disebutkan di atas. Negara-negara tersebut yaitu sebagai berikut: Baca di halaman berikutnya



Simak Video "Jokowi Vs SBY: Siapa Paling Banyak Tambah Utang?"
[Gambas:Video 20detik]