Dana Flu Burung Masih Seret

Dana Flu Burung Masih Seret

- detikFinance
Jumat, 28 Apr 2006 15:12 WIB
Jakarta - Negara donor internasional di Beijing pada Januari 2006 telah menjanjikan dana US$ 1,9 miliar untuk memerangi flu burung. Namun ternyata pencairan dana bantuan tersebut masih rendah. Untuk Indonesia saja dana yang sudah cair hanya sebesar US$ 50 juta padahal Indonesia membutuhkan dana US$ 900 juta."Itu bayangkan coba, kita akan mengatakan bahwa komitmen banyak tapi realisasinya belum," ujar Ketua Harian Komnas Penanggulangan Flu Burung Bayu Krisnamurti dalam jumpa pers di GEdung Depkeu, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat, (28/4/2006).Dana US$ 900 juta itu dibutuhkan Indonesis selama tiga tahun untuk penanggulangan flu burung. Sementara APBN dan dana yang terhimpun dari masyarakat dan swasta hanya mampu menyediakan US$ 200 juta.Dari APBN kira-kira US$ 50 juta per tahun, dari masyarakat dan swasta US$ 20 juta setahun, sehingga dalam 3 tahun dana yang terkumpul US$ 200 juta. Angka itu berarti lebih rendah dari jumlah kebutuhan sebesar US$ 900. "Ini bisa jadi masalah bagi Indonesia, mengingat Indonesia merupakan cross roads perdagangan unggas," ujar Bayu.Bayu juga menyesalkan masalah dana sebesar US $ 1,9 miliar yang dijanjikan para donor tersebut. Dana tersebut terdiri dari US$ 1 miliar berbentuk pinjaman dan sisanya berupa hibah dalam bentuk bantuan teknis. "US$ 1 miliar bentuknya loan, ini timbul masalah, kok permasalahan kemanusiaan dibikin loan?," sesalnya.Masalah flu burung adalah masalah transnasional, jika suatu negara berhasil memerangi flu burung, maka akan menjadi keuntungan bagi negara lain. Namun jika suatu negara gagal memerangi flu burung maka negara lain pun terkena getahnya.Strategi yang akan dilakukan Indonesai antara lain dengan meningkatkan kerja sama bilateral maupun multilateral dengan lembaga donor."Selasa depan, Wakil Menlu Jepang akan datang memberikan bantuan untuk penangangan korban manusia, Dubes Khusus AS untuk flu burung juga akan datang. Hubungan semacam ini akan kita intensifkan tapi pesannya Indonesia merasa komitmen yang dibuat di Beijing masih kurang realisasinya," katanya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads