Bikin Was-was, Omicron Jadi Tantangan RI Dalam Presidensi G20

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 06 Des 2021 18:14 WIB
Omicron adalah varian baru virus Corona. Virus ini pertama kali terdeteksi di Afrika.
Foto: Getty Images/iStockphoto/loops7
Jakarta -

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan pandemi COVID-19 jadi tantangan yang dihadapi pemerintah saat menjadi tuan rumah presidensi G20. Tantangan kepemimpinan Indonesia otomatis menjadi lebih besar.

"Sekarang kita menghadapi varian baru lagi namanya Omicron. Leadership dari negara termasuk Indonesia yang saat ini kebetulan diberikan mandat yang besar untuk memimpin perhelatan besar G20, sekaligus kita sedang diuji seperti apa leadership Indonesia ketika kita memimpin G20 dalam kondisi masih pandemi," kata Kepala BKF Kemenkeu Febrio Kacaribu dalam webinar 'Presidensi G20 - Manfaat Bagi Indonesia dan Dunia', Senin (6/12/2021).

Berkaca pada presidensi G20 di Arab Saudi pada 2020 lalu, persiapan seluruh infrastruktur penunjang untuk kegiatan sudah disiapkan. Ternyata muncul pandemi COVID-19 sehingga diharuskan menggelar secara virtual.

Tantangan serupa juga dialami presidensi G20 oleh Italia yang menggelar acara di tengah pandemi sehingga dalam pelaksanaannya disebut ada plus dan minusnya. Tantangan itu juga berisiko dialami Indonesia karena ada varian Omicron.

"Dalam setting seperti inilah tantangan bagi leadership Indonesia menjadi lebih besar. Kita mengangkat tema yang sangat optimis, yang sangat menantang namanya Recover Together, Recover Stronger," jelasnya.

Febrio menjelaskan tema Presidensi G20 Indonesia itu memiliki pesan bahwa ketika ingin pulih dari pandemi COVID-19 harus bersama-sama. Untuk itu, bagaimana bisa mengatasi virusnya adalah kunci utama.

"Kalau tidak bersama-sama itu tidak mungkin karena penyebab krisis kita secara global sekarang adalah kesehatan, virus, obatnya belum ada, yang selalu kita lakukan adalah vaksin," tuturnya.

Saat ini tantangan yang sangat besar adalah penyebaran dari virus di seluruh dunia karena vaksinasi yang belum merata. Untuk itu, Febrio bilang, pemerintah akan terus gencar melakukan vaksinasi kepada masyarakat hingga 2022 mendatang.

"Dalam konteks inilah leadership Indonesia akan sangat ditantang dan sangat kita butuhkan untuk kita tunjukkan kepada dunia, untuk kepentingan Indonesia, untuk kepentingan negara berkembang khususnya banyak negara miskin seperti Afrika yang belum sampai 10% vaksinasinya. Kita masih lumayan sudah di atas 35% vaksinasi kita dan terus akan makin cepat," tandasnya.

Simak video 'Antisipasi Omicron, Jokowi Minta Vaksin Booster Mulai Januari 2022':

[Gambas:Video 20detik]



(aid/zlf)