Terungkap! 80% Pekerja Gen Z Paling Banyak Tidur Siang di Kantor

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 13 Des 2021 11:20 WIB
tidur siang
Ilustrasi/Foto: thinkstock
Jakarta -

Pandemi COVID-19 bikin perusahaan menerapkan sistem bekerja dari rumah (work from home/WFH). Hal itu membuat karyawan lebih banyak melakukan kebebasan seperti tidur siang.

Plushbeds, produsen mewah tempat tidur, kasur, dan bantal telah mensurvei 1.000 orang Amerika Serikat (AS) untuk menyelidiki kebiasaan tidur siang para pekerja di sana. Hasilnya menunjukkan dampak positif tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, tetapi juga di tempat kerja.

Studi yang diterbitkan pada Oktober 2021 mengungkap, bahwa tidur siang di tempat kerja sudah umum dengan lebih dari 2-3% responden mengatakan pernah tidur siang di tempat kerja. Gen Z paling banyak mengakui pernah tidur siang di tempat kerja dengan persentase 80% dan milenial 70%.

"Untuk meningkatkan produktivitas di tempat kerja, orang mengira waktu tidur siang yang ideal adalah 20 hingga 30 menit. Agar merasa lebih kreatif, responden merasa 10 sampai 20 (menit) sudah cukup," kata studi tersebut, dikutip dari CNBC, Senin (13/12/2021).

Untuk lebih memaksimalkan tidur siang, biasanya karyawan memadukannya dengan kopi agar tidurnya tidak kebablasan. Pakar Manajemen dan Perilaku Daniel Pink menjuluki teknik ini sebagai 'nappucino', untuk membantu mengurangi kelelahan dalam tubuh.

"Ini ajaib! Ketika Anda bangun, Anda langsung mendapat tambahan kafein," katanya.

Menurut penelitian, nappers lebih cenderung berada dalam peran manajerial dan telah menerima promosi pada tahun sebelumnya daripada non-nappers. Sebanyak 55% nappers bekerja dalam peran manajerial, dibandingkan dengan 41% non nappers, 53% nappers telah menerima promosi pada tahun lalu, dibandingkan dengan 35% non nappers.

Meskipun nappers tampaknya memiliki kualitas hidup yang lebih baik, non nappers cenderung menghasilkan lebih banyak uang. "Orang-orang yang tidak melakukan apa-apa di siang hari memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk mendapatkan US$ 100.000 atau lebih setiap tahunnya," menurut laporan tersebut.

Artikel lain yang diterbitkan oleh Sleep.org pada Maret, dilaporkan bahwa 70% orang AS mengatakan mereka kurang tidur secara teratur sehingga perlunya tidur siang untuk menjalani hari. Untuk itu, banyak pekerja berpikir bahwa tidur siang di tempat kerja harus didestigmatisasi.

"Daripada dimarahi, banyak responden berpikir bahwa tidur siang harus diintegrasikan ke tempat kerja. Beberapa menyarankan pengenalan ruang tidur siang, tunjangan untuk alat bantu tidur, dan bahkan istirahat tidur siang berbayar. Yang lain hanya akan menghargai jika tidur siang didorong atau bahkan diizinkan ketika mereka sedang bekerja," kata studi tersebut.

Ada beberapa fasilitas tidur yang diinginkan karyawan, dengan 42% menginginkan kamar tidur siang yang ditentukan. Sementara 36% responden hanya menginginkan izin untuk tidur siang jika diperlukan, dan 32% menginginkan budaya tidur siang yang sehat di kantor mereka.

Lihat juga Video: Merasakan Wisata Tidur, Sacred Nap di Ubud

[Gambas:Video 20detik]



(aid/eds)