Produk Halal Diminati Dunia, RI Harusnya Jadi Pusat Industri

Nada Zeitalini Arani - detikFinance
Sabtu, 18 Des 2021 11:29 WIB
MUS Halal Convenience Store hadir menjadi alternatif bagi warga Depok untuk berbelanja produk halal kebutuhan sehari-hari dengan konsep kenyamanan.
Foto: dok. MUS
Jakarta -

Berkembangnya ekonomi syariah dan industri halal mendorong pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia. Produk halal yang awalnya jadi kebutuhan masyarakat muslim kini beranjak menjadi gaya hidup dan tren perdagangan global.

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi syariah dan industri halal dipandang sebagai sumber mesin pertumbuhan ekonomi baru. Umat muslim dunia membelanjakan tidak kurang dari US$ 2,02 triliun untuk kebutuhan di bidang makanan, farmasi, kosmetik, fashion, pariwisata, dan sektor-sektor syariah lainnya (data The State of the Global Islamic Economy Report 2020/21).

"Kita juga perlu untuk turut serta, fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan, berupa peningkatan kualitas dan produktivitas industri halal, agar produk-produk nasional memiliki daya saing dan diminati tidak hanya oleh konsumen domestik, namun juga oleh masyarakat global," ujar Wakil Presiden Republik Indonesia KH Ma'ruf Amin dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/12/2021).

Ma'ruf menyampaikan faktor-faktor yang mendukung Indonesia jadi pusat pertumbuhan ekonomi syariah. Pertama adalah Indonesia memiliki populasi muslim terbesar di dunia (229,6 juta berdasarkan data 2020). Kedua, preferensi dan loyalitas masyarakatnya terhadap merek produk lokal yang cukup tinggi.

Ketiga, adalah fakta bahwa Indonesia merupakan net exporter produk makanan halal dan fashion dengan total nilai ekspor masing-masing mencapai USD22,5 miliar USD10,5 miliar. Keempat, meningkatnya investasi di bidang ekonomi syariah.

"Selanjutnya, konsep ekonomi syariah bersifat universal dan inklusif, dan bahkan telah menjadi pilihan kebutuhan hidup masyarakat," jelas Ma'ruf.

Untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat produsen halal dunia, ia menyampaikan perlunya penguatan industri produk halal, seperti peningkatan kapasitas produksi produk halal melalui pembentukan Kawasan Industri Halal (KIH), pembentukan zona-zona halal, maupun sertifikasi halal.