Ada Omicron, RI Siapkan Uang Belanja 'Tameng Pertahanan' Segini

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 20 Des 2021 18:45 WIB
Strips of newspaper with the words Omicron and Covid-19 typed on them. Omicron variant of COVID-19. Black and white. Close up.
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/Professor25
Jakarta -

Pemerintah mewanti-wanti varian baru COVID-19 Omicron bisa mengobrak-abrik perekonomian. Untuk antisipasi dampaknya, pemerintah akan mempersiapkan ruang fiskal (fiscal space) untuk penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional (PEN).

"Apabila ada efek yang mirip dengan Delta, maka pemerintah mempersiapkan fiscal space. Sekarang fiscal space yang ditangani dan disiapkan untuk penanganan COVID dan PEN adalah Rp 52 triliun," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers virtual, Senin (20/12/2021).

Airlangga memproyeksi serapan anggaran PEN hingga akhir tahun hanya akan mencapai 90,3% dari pagu Rp 744,77 triliun. Nah sisa dari anggaran tersebut akan digunakan untuk lanjutan perlindungan sosial tahun depan.

"Dana PC-PEN tahun ini diperkirakan realisasi sebanyak 90%, artinya ada 10% sisa anggaran, sisa anggaran yang 10% itu bisa digunakan di tahun depan untuk sebagai buffer perlindungan sosial," tuturnya.

Airlangga berharap adanya varian Omicron tidak mengganggu prospek pertumbuhan ekonomi. Dia berharap pertumbuhannya bisa sesuai dengan rencana yakni 5,2% di 2022.

"Tadi dalam rapat dengan Bapak Presiden disampaikan skenario, jadi skenarionya tergantung efek dari Omicron. Tentu kalau ini semua terkendali kita harap pertumbuhan ekonomi sesuai dengan apa yang direncanakan dalam APBN yaitu 5,2% pertumbuhannya di 2022," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengklaim kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih terkendali dengan baik. Meskipun, ada varian baru COVID-19 Omicron.

"Ekonomi menurut kami semua masih terkendali cukup baik, data-data kami menunjukkan baik," kata Luhut.

Meski begitu, Luhut menyebut kondisi ekonomi ini akan dilihat secara berkala setiap minggunya. "Semua ini kita akan lihat per minggu. Jadi tidak ada satu orang pun saya kira di dunia ini yang mampu meramalkan ekonomi lebih dari 3 bulan," tuturnya.

(aid/eds)