3 Risiko Ekonomi untuk Asia

3 Risiko Ekonomi untuk Asia

- detikFinance
Selasa, 02 Mei 2006 10:53 WIB
Jakarta - Tahun 2006 akan menjadi salah satu tahun yang terbaik bagi Asia. Namun setidaknya ada 3 risiko ekonomi yang harus dihadapi oleh negara-negara Asia. Apa saja?Pertama, risiko tingginya harga minyak dunia. Meski diakui bahwa sejauh ini tingginya harga minyak memberi dampak yang moderat untuk Asia, namun risiko tetap ada. Hal ini mengingat masih adanya kekhawatiran soal suplai minyak dunia, yang akan menjadi faktor penentu pergerakan harga minyak."Tingginya harga minyak dunia dapat mengintensifkan tekanan inflasi, terutama di negara-negara di mana harga domestiknya masih di bawah level dunia, sehingga memerlukan penyesuaian harga teradministrasi lanjutan yang lebih besar," kata Deputi Direktur IMF untuk Asia Pasifik, Wanda Tseng.Pernyataan Tseng merupakan bagian dari Laporan "IMF Regional Outlook" seperti dikuti dari situs resmi IMF, Selasa (2/5/2006).Kedua, risiko berkaitan dengan kondisi keuangan dunia yang ketat. Kawasan Asia sebelumnya telah menikmati lingkungan yang sangat ramah yang berupa rendahnya tingkat suku bunga. Hal itu menyebabkan turunnya spread surat-surat berharga dan meningkatnya harga-harga ekuitas."Namun dengan adanya perubahan lingkungan dunia, pasar finansial Asia akan diuji. Kawasan ini harus bisa menghadapi perubahan ini," ujar Tseng.Ketiga, risiko ketidakseimbangan neraca berjalan dunia. Risiko itu muncul akibat adanya perlambatan yang sangat tajam dari permintaan di AS. Hal itu membawa konsekuensi berkurangnya ekspor dari kawasan Asia ke AS.Khusus untuk wabah flu burung di Asia, IMF berpandangan, pandemi itu tidak berarti apa-apa. Pandemi flu burung hanya akan membawa dampak yang menghancurkan jika memang sudah benar-benar terjadi.IMF juga memberi tiga saran untuk menghadapi risiko-risiko tersebut.Pertama, Bank Sentral harus mengambil kebijakan moneter yang tepat mengatasi tekanan inflasi akibat tingginya harga minyak, tanpa membahayakan permintaan domestik yang sudah meningkat.Kedua, pemerintah harus memperkuat posisi fiskal untuk mengimbangi penambahan jumlah penduduk dan memperbaiki infrastruktur publik.Ketiga, pemerintah harus memperkuat permintaan domestik untuk menyokong pertumbuhan ekonomi selain mengurangi ketidakseimbangan eksternal."Di negara emerging Asia (kecuali Cina), peningkatan permintaan memerlukan adanya investasi," ujar Tseng.Di kawasan Asia, investasi turun hingga lebih dari 10 persen dari PDB setelah krisis pada tahun 1997, dan belum menunjukkan adanya perbaikan hingga saat ini. IMF menilai sangat penting bagi kawasan ini untuk mengembalikan investasi hingga level sebelum krisis. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads