Ekspor CPO RI 'Digilas' Gajah
Selasa, 02 Mei 2006 15:33 WIB
Pekanbaru - Konflik gajah dengan manusia yang tak kunjung terselesaikan di Riau mempengaruhi daya siang ekspor minyak kelapa sawit (CPO) Indonesia di pasaran internasional. Gubernur Riau pun diminta segera mengatasi konflik tersebut. Direktur Jenderal Departemen Pertanian, Prof Dr Djoko Said Damardjati menegaskan hal itu dalam suratnya bernomor 139/pp.220/G/4/2006 tertanggal 17 April 2006 yang diterima detikcom, Selasa (02/05/2006). Surat Dirjen yang ditujukan kepada Gubernur Riau, Rusli Zainal itu berisi permintaan agar segera mengatasi konflik gajah dengan manusia yang terjadi di Riau selama ini. Menurut Djoko, pemberitaan konflik gajah di Riau di media nasional dan internasional, berdampak negatif terhadap harga ekspor minyak sawit Indonesia. Dan dikhawatirkan reaksi LSM dunia akan membuat citra minyak sawit Indonesia lebih terpuruk lagi. Dalam surat itu dijelaskan, dalam rangka upaya menyukseskan peningkatan pembangunan industri kepala sawit nasional berserta produk turunannya, khususnya bagi peningkatan ekspor, penyebab menurunnya daya saing perlu diindentifikasi. Salah satu usaha untuk meningkatkan daya saing tersebut, dengan meminimalkan dampak negatif dari isu-isu yang mengglobal mengenai gangugan terhadap lingkungan hidup. "Khususnya lagi keberadaan satwa yang ditengarai terancam kepunahan," kata Djoko. Dia menjelaskan, konflik gajah dengan manusia di Riau tidak terlepas dari tingginya tingkat konservasi hutan untuk perkebunan sawit, hutan tanaman industri serta kegiatan ilegal logging yang secara kebetulan merupakan habitat gajah Sumatera. Kondisi tersebut, dapat mengindikasikan lemahnya penegakan hukum dan tidak terkendalinya penerbitan Surat Keterangan Tanah (SKT) serta jual beli kawasan hutan. Sementara itu, dalam surat edaran Gubernur Riau, No 522/Ekbang/35.27 tertanggal 14 Desember 2005, telah ditegaskan tidak ada toleransi atau alasan apapun bagi penerbitan SKT di dalam kawasan hutan atau areal berhutan. Satu sisi, lanjut Djoko, media massa melaporkan bahwa konflik gajah dengan manusia ini disebabkan karena semakin berkurangnya habitat gajah akibat dari konversi hutan menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Berhubungan dengan hal tersebut, Dirjen Pertanian, mengharapkan Pemda Riau dapat memfasilitasi dengan baik lagi terhadap pengelolaan konversi hutan secara menyeluruh. Khususnya lagi yang bersinggungan dengan habitat gajah dan satwa yang terancam punah lainnya.
(qom/)











































