Permintaan Lahan Perkantoran Naik

Permintaan Lahan Perkantoran Naik

- detikFinance
Selasa, 02 Mei 2006 15:55 WIB
Jakarta - Permintaan properti yang digunakan untuk perkantoran pada triwulan I-2006 mengalami peningkatan. Untuk perkantoran di Jakarta tingkat okupansi rata-rata meningkat menjadi 85,4 persen pada triwulan I-2006 dibanding triwulan terakhir 2005 sebesar 84,9 persen."Untuk kawasan segitiga emas rata-rata tingkat okupansi sebesar 84 persen sedangkan diluar kawasan segitiga emas sebesar 88 persen," kata Kepala Bidang Riset Procon Indah, Arif Raharja dalam konferensi pers di kantornya di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Selasa (2/5/2006).Arif menjelaskan, peningkatan okupansi perkantoran di Jakarta umumnya terjadi di kantor-kantor yang mengenakan tarif dalam denominasi dollar AS. Hal ini seiring dengan penguatan nilai rupiah yang terjadi belakangan ini. Penyewa (tenant) gedung juga merupakan penyewa yang melakukan relokasi atau ekspansi usaha.Dengan tingkat okupansi yang mencapai 85 persen, pemilik gedung memiliki daya tawar yang lebih besar dalam menentukan harga sewa, yang akan membuat harga sewa perkantoran di Jakarta akan meningkat."Secara rata-rata kenaikannya bisa sebesar 10 persen, namun tergantung masing-masing gedungnya dan ruang yang tersedia," kata Chief Executive Officer PT Procon Indah, David Cheadle.Sementara permintaan terhadap apartemen sewa di Jakarta juga meningkat terutama untuk apartemen kondominium yang disewakan. Hal ini karena suplai unit apartemen tersebut banyak dan harganya yang relatif rendah. Unit yang tersedia untuk apartemen kondominium yang disewakan sebanyak 11.882 unit dengan kisaran harga US$ 10,62 per meter persegi per bulan.Sedangkan untuk pasar kondominium, permintaan lebih besar datang dari segmen kondominium menengah. Pada triwulan I-2006, penjualan kondominium di segmen menengah ini mencapai 1,669 unit dibanding triwulan terakhir tahun lalu yang hanya 166 unit. Tahun ini jumlah kondominium di Jakarta meningkat dengan selesainya Pakubuwono Residence, Kayamas Residence dan Semanan Indah.Untuk properti industri, permintaan juga meningkat. Selain masih didominasi oleh pemain lama yang bergerak di sektor otomotif dan motor, muncul juga pemain baru dari industri rokok dan baja. Misalnya perusahaan rokok Phillip Morris yang membeli areal seluas 60 Ha di Karawang.Sementara itu, properti retail justru mengalami penurunan. Sampai triwulan pertama, properti retail yang tersedia masih dominan diserap oleh trade center yaitu sebanyak 71 persen dari persediaan area di triwulan I sebesar 100.000 meter persegi."Permintaan turun karena banyak retailer yang punya business plan yang sangat ketat dan memilih tempat yang sesuai dengan target market," ujar Arif. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads