Industri Tekstil Akan Dapat Keringanan Bunga Kredit
Selasa, 02 Mei 2006 17:25 WIB
Jakarta - Industri tesktil bakal segera bangun dari tidur panjangnya. Departemen Perindustrian (Depperin) akan memberikan keringanan bunga kredit kepada pengusaha yang akan memperbarui mesinnya.Depperin berencana menyisihkan anggaran tahun 2007 untuk menutupi sebagian bunga sektor tekstil untuk membantu bangkitnya industri pertekstilan. Implementasi kebijakan ini tinggal menunggu persetujuan DPR."Ini kami adopsi dari pemerintah India yang berhasil membangkitkan kembali industri tekstil India dengan Textile Technology Upgrading Fund. Sehingga pengusaha tekstil India hanya membayar 7 persen dari yang seharusnya dan pemerintahnya yang menanggung pembayaran sisa bunga," kata Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) Ansari Bukhari.Hal itu disampaikan Ansari, usai rapat dengan Bank Indonesia, BNI, Bank Mandiri di Gedung Departemen Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta (2/5/2006).Sebelumnya perusahaan penilai BUMN, Sucofindo memperkirakan untuk merestrukturisasi permesinan industri tekstil nasional, dibutuhkan biaya US$ 400 juta atau setara Rp 3,6 triliun. Ansari menjelaskan, dalam fasilitas ini, Depperin mengusahakan maksimal pengusaha hanya menangung 10 persen bunga, apabila bunga yang diberikan 18 persen. Sedangkan Depperin menanggung 8 persen atau sekitar Rp 350 miliar dari total Rp 3,6 triliun tersebut, dengan lama pinjaman maksimal 3 tahun."Pihak perbankan dan BI menyatakan tidak masalah dan pengusaha juga mendukung kalau kita mengadopsi sistem tersebut. Masalahnya ini terkait APBN, jadi tinggal bagaimana respons DPR tentang usulan ini," jelas Ansari.Menurut Ansari, dari 2.500 pabrik tekstil yang ada, sekitar 1.194 perusahaan seharusnya berhak mendapat program ini. "Namun keputusannya masih ditangan perbankan siapa yang berhak dapat, mengingat ini masuk dana komersil," tambah Ansari.Seleksi calon pengusaha yang akan menerima keringanan kredit ini juga akan dilakukan oleh perbankan. Diakui, fasilitas ini secara jangka pendek akan membuat pemerintah mengeluarkan banyak dana.Tapi, ungkap Ansari, yang harus dilihat adalah multiplier effect-nya. Karena naiknya daya saing industri tekstil akan berdampak pada naiknya angka produksi dan ekspor serta bertambahnya pendapatan pajak.
(ir/)











































