Harga Minyak Melonjak, RI Untung

Harga Minyak Melonjak, RI Untung

- detikFinance
Rabu, 03 Mei 2006 10:23 WIB
Jakarta - Lonjakan harga minyak ternyata tak semata-mata merugikan. Indonesia pun bakal mendapat berkah (windfall Profit) dari lonjakan harga minyak itu, sehingga defisit APBN bisa dikurangi.Dengan adanya lonjakan harga minyak yang kini mencapai US$ 75 per barel, maka Indonesia akan menikmati manisnya penerimaan migas. Dampaknya, defisit akan semakin mengecil. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pengkajian Ekonomi, Keuangan dan Kerjasama Internasional (Bapeki) Depkeu, Anggito Abimanyu usai rapim di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (2/5/2006) malam."Karena harga minyak BBM kita sudah tinggi, jadi penerimaan dari penjualan minyak kita juga tinggi. Kemudian hasil dari penerimaan yang berasal dari pajak minyak, dari PNBP lebih besar dari tambahan subsidi dan bagi hasil," ujar AnggitoMenkeu Sri Mulyani sebelumnya mengatakan, pemerintah tengah mempertimbangkan untuk mengubah asumsi kurs rupiah dalam APBN 2006 menjadi Rp 9.000 per dolar AS. Pemerintah juga tengah menyusun sejumlah asumsi-asumsi APBN perubahan. Opsi itu antara lain, kurs Rp 9.000 per dolar AS dan rata-rata harga minyak US$ 60 per barel, sehingga defisit bisa mencapai 1,3 persen PDB atau sekitar Rp 40 triliun. Sementara jika kurs ditetapkan Rp 9.000 per dolar AS dan rata-rata harga minyak adalah US$ 70 per barel, maka defisit diperkirakan mencapai 1 persen dari PDB atau setara Rp 32,3 triliun. Anggito menambahkan, kondisi ekonomi yang membaik dengan kurs yang menguat membuat kenaikan harga minyak mengurangi defisit dari APBN. "Ini terbalik dari situasi tahun lalu. Ini berita yang cukup penting. Harga minyak yang relevan dalam APBN yakni ICP (Indonesia Crude Price). Itu yang kita pakai, kita ekspor," tambahnya.Namun ia menggarisbawahi bahwa asumsi-asumsi makro yang disampaikan pemerintah hanya merupakan perhitungan sementara. Mengenai revisi target pertumbuhan menjadi 5,9 persen, Anggito menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena masih adanya tekanan faktor internal dan eksternal. Faktor internal yakni inflasi yang masih tinggi dan daya beli masyarakat yang belum pulih. Sementara dari faktor eksternalnya adalah kondisi perekonomian dunia yang saat ini masih relatif stagnan. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads