Untung-Rugi di Balik Meroketnya Harga Sawit

ADVERTISEMENT

Untung-Rugi di Balik Meroketnya Harga Sawit

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 28 Des 2021 20:00 WIB
Pekerja membongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke atas truk di Mamuju Tengah , Sulawesi Barat, Rabu (11/08/2021). Harga TBS kelapa sawit tingkat petani sejak sebulan terakhir mengalami kenaikan harga dari Rp1.970 per kilogram naik menjadi Rp2.180  per kilogram disebabkan meningkatnya permintaan pasar sementara ketersediaan TBS kelapa sawit berkurang. ANTARA FOTO/ Akbar Tado/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/AKBAR TADO
Jakarta -

Meroketnya harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) bisa dibilang menjadi berkah buat negara. Sebab, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) berhasil menghimpun Rp 69,7 triliun pungutan ekspor kelapa sawit dan produk turunannya dari eksportir per 17 Desember 2021. Ini adalah jumlah tertinggi sejak didirikannya BPDPKS pada 2015 lalu.

Direktur Utama BPDPKS Eddy Abdurrachman menjelaskan pungutan tersebut diambil atas volume ekspor kelapa sawit 35,88 juta ton senilai US$ 28,99 miliar.

"Kalau kita lihat sebagaimana terlihat di dalam chart yang kami sajikan bahwa pungutan ekspor yang kita himpun pada tahun 2021 ini sampai dengan tanggal 17 Desember itu mencapai Rp 69,7 triliun. Ini merupakan jumlah pungutan yang terbesar sepanjang didirikannya BPDPKS," katanya dalam konferensi pers, Selasa (28/12/2021).

Dia menjelaskan volume ekspor kelapa sawit periode Juli 2015-November 2021 berada di rentang 18,49 sampai 40,77 juta ton, dengan rata-rata ekspor sebesar 34,47 ton per tahun. Sedangkan nilai ekspor kelapa sawit periode Juli 2015-November 2021 berada di rentang US$ 7,7-28,99 miliar, dengan rata-rata nilai ekspor US$ 20,67 miliar.

"Pungutan atau penghimpunan dana yang kita terima dari pungutan ekspor terhadap setiap transaksi ekspor CPO dan produk-produk turunannya dan juga by product-nya itu berada di dalam rentang antara Rp 6,9 sampai dengan Rp 67,53 triliun, dengar rata-rata pungutan ekspor selama 5 tahun ini sebesar Rp 19,29 triliun," tambahnya.

Namun demikian, mahalnya sawit menyebabkan harga minyak goreng sebagai produk turunannya ikut meroket. Padahal ibu-ibu membutuhkannya untuk memasak.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT